Gelar Tungguk Tembakau, Cara Petani Lereng Merbabu Boyolali Awali Panen Tembakau

TEPIAN INDONESIA-BOYOLALI-Masyarakat Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, tumpah ruah berpakaian adat tradisional mengikuti ritual dengan menggotong berbagai gunungan hasil bumi pada Sabtu 3 Agustus 2019. Mereka melakukan tradisi tahunan Tungguk Tembakau sebagai tanda syukur atas hasil panen tembakau tahun ini.

Diawali dengan kirab budaya yang membawa hasil bumi, gunungan tembakau dan gunungan nasi kuning beserta lauk pauknya. Diiringi sejumlah kesenian tradisional berkeliling di sepanjang jalan desa.

Tungguk tembakau merupakan tradisi yang digelar saat mengawali panen tembakau. Tungguk diartikan memetik. Ritual ini sebagai wujud syukur para petani sebelum memulai panen tembakau secara turun temurun oleh petani di lereng Gunung Merbabu wilayah Boyolali.

Agenda tahunan ini dimaknai sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Darmanto yang mewakili Pemerintah Kabupaten Boyolali usai pelepasan kirab. 

“Bersyukur kepada Allah SWT dan juga nguri-nguri budaya yang harus kita lestarikan sebagai kekayaan budaya Jawa, budaya Boyolali dalam rangka panen tembakau,” terangnya.

Selain itu diharapkan dengan agenda ini sebagai wujud nilai luhur bangsa yakni gotong royong. Selain itu juga mampu meningkatkan kunjungan wisata di Boyolali terlebih wilayah Selo. 

“Harapannya membangun gotong royong, meningkatkan kunjungan pariwisata yang kita jual ke masyarakat. Bisa mempromosikan betapa kayanya Boyolali, betapa kayanya potensi lokal. Betapa indahnya budaya Jawa sebagai perekat persaudaraan kita semua,” imbuh Darmanto.

Keberkahan Tungguk Tembakau juga diyakini membawa kemakmuran bagi petani tembakau. Jadi para petani menjadi semakin sejahtera. Agenda ini mampu menarik perhatian salah satu artis nasional, Bertrand Antolin yang sangat antusias mengikuti acara. Ia memahami setiap sesi ritual yang sudah jarang dilihat di ibukota. 

“Sangat bangga sebagai rakyat Indonesia melihat antusias masyarakat begitu kuat histori Boyolali. Masyarakat pada datang ngumpul bersama itu sesuatu simbol persatuan sebagaimana orang Indonesia yang gotong royong, kebersamaan. Di Jakarta sangat jarang,” tegasnya. (wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *