Kasus Penganiayaan Ibu dengan Korban Anak Kandung di Ampel Boyolali Direkonstruksi, Ini Kronologinya…

TEPIANINDONESIA.COM-BOYOLALI-Jajaran Polres Boyolali merekonstruksi kasus ibu yang diduga menganiaya anak kandung hingga tewas Selasa 13 Agustus 2019. Reka ulang ini sendiri digelar di rumah Dukuh/Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.


Oleh penyidik polisi, pelaku dijerat pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2004 Atas Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 351 ayat 3 KUHP. Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro mengatakan, rekonstruksi untuk memberikan gambaran riil dan nyata ke pihak jaksa dan penasihat hukum tersangka adanya persesuaian alat bukti atas peristiwa tindak pidana yang terjadi.

Hadir dalam kegiatan rekontruksi Dandim Boyolali Letkol Herman Taryaman dan Kajari Boyolali Prihatin, SH, MH serta Kasipidum Aditya, SH, MH dan para jaksa yang menangani perkara.

Tersangka berinisial SW yang merupakan ibu kandung korban didampingi tim kuasa hukum M. Haidar, SH, MH dan Satya Adis Kiswara, SH, MH. Tersangka memperagakan 8 item adegan yang diakui telah dilakukannya kepada anak kandungnya saat itu. Peragaan adegan rekontruksi dipimpin Kasat Reskrim Iptu Mulyanto, SH, MH.

Berikut 8 adegan yang diperagakan:

Adegan ke-1 : Pada hari senin tanggal 8 Juli 2019 pukul 14.00 wib pada saat korban sedang menonton TV dengan adik2 nya kemudian tersangka mencubit karena korban tidak bisa diam kemudian menjewer telinganya korban hingga korban menangis.

Adegan ke-2 : Pada hari selasa tanggal 9 t 2019 sekitar pukul 09.00 wib korban mengeluh sakit kepada tersangka kemudian sambil menggedong anaknya yg masih kecil korban berdiri di samping tersangka kemudian tersangka mendorong kepala korban hingga korban jatuh ke tanah hingga korban menangis.

Adegan ke-3 : Pada hari Rabu tanggal 10 Juli 2019 pukul 20.00 datang Sdr. Iwan membawa roti bakar kemudian tersangka bersama ketiga anaknya termasuk korban makan roti bakar tersebut kemudian setelah itu Sdr. Iwan pergi lagi, skj 21.00 wib tersangka mematikan TV dan menyuruh anak2nya tidur dengan posisi menghadap utara, paling timur Sdr. Raela, sebelahnya Sdr. Fredi kemudian sebelahnya tersangka dan kemudian korban, setelah pukul 22.00 wib korban membangunkan tersangka mengeluh sakit perut dan kepalanya pusing, kemudian oleh tersangka di suruh tidur dan di selimuti namun tidak mau, kemudian korban di elus2 oleh tersangka  supaya mau tidur namun masih tetap rewel dan merintih, kemudian karena jengkel tersangka kemudian memukul perut sebelah kanan korban yg saat itu dlm posisi terbaring dengan menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak 1 kali kemudian korban diam sampai merintih kesakitan sekali.

Adegan ke-4 : Selang beberapa saat kemudian korban kembali rewel dan membangunkan tersangka kemudian oleh tersangka di elus2 kakinya namun masih tetap rewel kemudian tersangka bangun dan duduk bersila menyuruh korban untuk diam, namun karena sakit korban masih rewel, kemudian tersangka jengkel lalu menggunakan tangan kanan mendorong kepala korban hingga membentur lemari di sampingnya sehingga kepala korban membentur lemari bagian dahi sebelah kiri, kemudian bersamaan dengan itu tangan kiri tersangka mendorong lagi kepala korban sampai dahi korban menyerempet pinggiran almari lagi hingga korban menangis dan bilang sakit. Kemudian setelah itu korban terbaring lagi di tempat tidur tersebut sambil merintih sakit.

Adegan ke-5 : Korban kembali rewel dan merintih, tersangka terbangun kemudian karena jengkel tersangka dengan posisi sambil berbaring, tersangka dengan tangan meremas punggung korban dengan keras hingga korban kembali menangis karena kesakitan.

Adegan ke-6 : Pada hari kamis tanggal 11 Juli 2019 skj 07.30 wib tersangka menyuapi korban kemudian tersangka menjemur pakaian, sekitar pukul 12.00 wib tersangka mendekati korban dan mendapati tubuh korban dalam keadaan sudah dingin, kemudian karena tersangka panik selanjutnya keluar rumah untuk meminta bantuan kepada saksi IV ( Sdr. Siti Badriyah ) kemudian saksi IV memanggil saksi VII ( Sdr. Elayati ) untuk di ajak melihat kondisi korban.

Adegan ke-7 : Kemudian tersangka bersama dengan saksi IV dan saksi VII masuk kedalam rumah dan melihat korban dalam psisi tertidur memakai selimut kemudian saksi VII mengecek korban memasuknya tangannya kedalam selimut dan memegang tangan korban dan mendapati tangan korban sudah dalam keadaan dingin dan kaku, kemudian saksi VII keluar rumah dan meminta bantuan warga.

Adegan ke-8 : Datang warga yg salah satunya adalah saksi IX ( Sdr. Agus Supriyanto ) kemudian saksi IX mencari meja dan mendekati korban selanjutnya mengangkat korban untuk diletakkan di atas meja setelah itu saksi IX mengambil gunting untuk memotong baju korban karena korban sudah dalam keadaan kaku sehingga pakaiannya harus di potong setelah itu saksi IX mengangkat korban untuk di mandikan / di sucikan, terang AKBP Kusumo Wahyu Bintoro.

Kasubag Humas Polres Boyolali AKP Eddy Lillah, menambahkan bahwa kegiatan rekontruksi ini mendapat perhatian yang sangat antusias dari masyarakat sekitar TKP. Sehingga dalam kegiatannya Polres Boyolali bersama-sama Polsek Ampel melakukan pengamanan yang terdiri dari personil gabungan fungsi Polres dan Polsek sejumlah 100 personil yang dipimpin Kapolsek Ampel AKP Margono, SH.

“Alhamdulilah kegiatannya Rekontruksi tersangka (SW) Ibu yang aniaya anak kandungnya sendiri hingga meninggal ini dapat berlangsung dengan aman dan lancar, sesuai dengan seluruh adegan yang diagedakan,” ungkap Akp Eddy Lillah. (wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *