Kreativitas Wawan Purnomo, Pengrajin Kulit Ikan Pari Desa Sambon Banyudono Boyolali yang Bertahan Eksis. Ini Kisahnya…

TEPIANINDONESIA.COM-BOYOLALI-Di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali terdapat pengrajin berbahan baku kulit ikan pari. Dia adalah Wawan Purnomo. Dia masih bertahan eksis berkreativitas hingga sekarang.

Wawan memiliki tempat produksi dan juga show room untuk menjual produk yang sudah jadi. Usaha ini dirintis Wawan sejak Desember 2008. Namun masih dalam taraf sangat kecil dengan modal awal Rp 10 juta.

Kemudia mendapatkan legalitas usaha pada tahun 2010. Usahanya kini kian berkembang dan mempekerjakan tiga karyawan di bagian produksi. Dalam tiga hari, satu pekerja dapat memproduksi satu tas. Semua dilakukan sendiri dengan tingkat detail yang tinggi.

Nurohmat, marketing home industri kulit ikan pari ini mengungkapkan, omset penjualan dalam sebulan mancapai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta. “Semua produksi dilakukan di sini, pembeli bisa custom barang seperti apa yang di inginkan,” katanya Kamis 19 September 2019.

Mereka bisa konsultasi dengan budget yang dimiliki. Customer bisa pesan via online melalui WhatsApp atau lewat penjualan online yang sudah disediakan. Sebelum mampu menghasilkan produk sendiri, awal dari terbentuknya usaha ini adalah menjual jasa pembuatan tas. Kemudian tarafnya naik dan mulai produksi barang sendiri.

Dalam hal pengolahan kulit mentah sampai siap diproduksi dilakukan oleh Wawan sendiri. Kulit direndam zat kimia selama tujuh hari. Untuk kulit sapi langsung memesan barang siap produksi. “Tidak diolah sendiri. Asesoris pelengkap kami dapat dari Jogja,” ungkap dia.

Kemudian, Bahan baku utama kulit pari didapat dari nelayan di Jepara. Kemudian dikirim ke rumah masih mentahan lalu kulitnya diseset dan di olah sendiri.

Tak hanya berupa tas, di sini juga memproduksi dompet, ikat pinggang, tempat kacamata dan gantungan kunci. Selain kulit ikan pari juga memproduksi kerajinan dari bahan lain seperti kulit sapi dan kulit ular.

“Kendalanya itu susah cari asesoris. Karena terkadang barang yang kita butuhkan sudah tidak ada. Karena kita belinya belum bisa langsung banyak. Produksi kita juga masih sedikit,” tutur Nurohmat. (Mei Refi Khasanah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *