SOSOK INSPIRATIF: Melihat Lebih Dekat Pasutri di Banyumas yang Puluhan Tahun Bertahan Bikin Gula Jawa Nira Kelapa

TEPIANINDONESIA.COM-BANYUMAS-Puluhan tahun pasangan suami istri (pasutri) Untung Sutdri (57)-Satem (51), menggeluti home industri pembuatan hula jawa berbahan nira kelapa. Alat produksi warga Dusun Bentalak, Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini pun masih sangat-sangat tradisional.

Setiap hari, sekitar pukul 14.00 WIB, Untung membawa belasan ember menuju kebun. Setibanya di kebun kelapa, barulah ember tersebut dibawa satu-per satu naik pohon kelapa.

Sesampai di atas dengan ketinggian 35-40 meter, Untung mulai memotong salah satu tangkai nira pohon kelapa. Air dari tangkai tersebut menetesakan air dan dipasanglah wadah tersebut di atas pohon hingga keesokan harinya.

Setelah belasan ember terpasang di setiap pohon kelapa, Untung pulang ke rumah hingga menunggu pagi. Setelah sekitar pukul 08.00 WIB, Untung kembali ke kebun mengecek dan sekalian mengambil air nira kelapa yang sudah terkumpul di ember.

Kemudian ia membawa turun air nira, setelah terkumpul semua lantas dibawa pulang ke rumah dan diserahkan ke sang istri untuk direbus. Pengolahan air nira dengan cara direbus di atas api menggunakan wajan ukuran besar. Dibutuhkan waktu 3 sampai 4 jam perebusan di atas tungku sambil diaduk-aduk terus demi mendapatkan hasil gula yang bagus.

Setelah 3 jam, air gula dari nira kelapa diangkat dari atas tungku. Kemudian air nira menjadi gula segera dicetak di potongan bambu kecil-kecil yang sudah disiapkan sebelumnya. Proses ini dilakukan harus cepat karena air nira setelah diolah akan menjadi gula beku.

Setelah selesai dimasukan ke cetakan bambu, Satem menunggu 20 menit dan kemudian gula air nira kelapa tersebut dikeluarkan dari dalam cetakan. Proses akhir dilakukan pengemasan dan pemasaran.

Memproduksi air nira kelapa dijadikan bahan gula jawa ini dilakukan karena tidak ada pekerjaan lain selain bertani. “Iya ini pekerjaan saya setelah di sawah. Membuat gula jawa seperti ini saya lakukan karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan,” kata Satem, kepada tepianindonesia.com Selasa15 Oktober 2019.

Hingga saat ini tetap memproduksi gula jawa di wilayah Purwokerto. Karena selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari juga menjaga warisan leluhur.

“Sekarang sudah nggak banyak lagi yang produksi gula jawa kayak gini. Banyak orang sudah males karena prosesnya yang lama dan risiko yang ada. Ini dilakukan demi menjaga warisan orang tua saya aja dan demi kebutuhan sehari – hari,” ujar dia.

Setiap hati mampu mengelola air nira kelapa menjadi gula jawa sebanyak 7 sampai 10 liter. Tergantung hasil air yang yang diproleh dari setiap pohon kelapa.

Dirinya berharap di usianya yang sudah tak muda lagi ini tetap diberi kesehatan untuk bisa memproduksi gula jawa berbahan nira kelapa. (reporter: Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *