Ada Biaya Ugeran Rp 350 Ribu dalam Mengurus Sertifikat Prona di Desa Tempelrejo Kecamatan Mondokan Sragen, Ini yang Sesungguhnya

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Sejumlah warga di Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, mengeluhkan biaya pembuatan sertifikat tanah dalam program Prona.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, beberapa warga merasa keberatan dengan biaya yang harus dikeluarkan demi memperoleh sertifikat hak milik. Pasalnya, telah ada persetujuan sejak awal dipatok biaya Rp 650 ribu. Namun menurut sejumlah warga, panitia penyelenggara program Prona kembali meminta uang sebesar Rp 350 ribu, sebelum sertifikat dibagikan.

Basir (53), warga Dukuh Teguhan, Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen mengaku tidak tahu tentang program sertifikat tersebut. Dia hanya tahu daftar dan bayar langsung petugas BPN mengurus serta membagikan sertifikat yang sudah jadi.

“Saya malah nggak tahu. Apalagi diajak rapat-rapatan. Pokoknya saya hanya tahu suruh daftar. Pokoknya bayar ugeran total semuanya Rp 2 juta gitu. Dan itu sudah saya bayar,” tuturnya Kamis 24 Oktober 2019.

Ugeran dan biaya proses sertifikat, dia membayarkan kepada salah satu panitia yang mendatanginya. “Pokoknya mendatangi saya, kemudian ditarik segitu mumpung ada uang langsung saya bayar lunas. Saat bayar saya tidak dikasih kuitansi,” beber dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Teguh Cahyono, warga Teguhan, Kelurahan Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen. Pihaknya merasa keberatan jika biaya tersebut benar-benar ditagih.

“Banyak di sini yang ditarik biaya itu. Kalau warga Tempelrejo biaya ugeran Rp 350 ribu di luar Tempelrejo Rp 550 ribu. Itu belum yang Rp 650 ribu dari kesepakatan awal,” timpalnya.

Hingga saat ini sertifikat dibagikan. Pihaknya baru membayar ugeran sebesar Rp 350 ribu. “Saya baru bayar yang Rp 350 ribu yang Rp 650 ribu belum saya bayar,” tandasnya.

Lantaran belum membayar, dia mengaku dicegat Pak RT setelah mengambil sertifikat di kantor desa. Dia disuruh bayar kekurangannya sebesar Rp 650 ribu. “Tapi belum saya bayar. Saya mau bayar ugeran Rp 350 ribu dan biaya awal Rp 650 ribu asal ada kuitansi pembayaran buat saya,” tegas dia.

Wakidi, salah satu warga yang memiliki tanah di Tempelrejo beralamat di Jetis, Kelurahan Pancuran Mas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah juga menyampaikan hal yang sama. Pihak keluarganya telah membayar Rp 1.250.000.

“Sudah dibayar pada panitia tanpa kuitansi. Mau nggak mau ya kita bayar. Orang kita butuh sertifikat itu,” ujar dia.

Terpisah, Muhammad Nuryanto, Sekretaris Desa (Sekdes) Tempelrejo ketika ditemui di kantornya menepis informasi tersebut. Menurutnya, pihak desa telah melakukan penarikan sesuai aturan yang berlaku dari bupati yakni sebesar Rp 650 ribu.

“Wah tidak benar itu Mas, yang benar Rp 650 ribu. Kita sesuai imbauan dari bupati. Kita nggak berani melangkahi imbuan bupati. Soal isu tersebut nanti kita selidiki. Hari ini ada 477 sertifikat yang dibagikan,” ujarnya. (reporter: Huriyanto)