Perjuangan Rinem, Warga Desa Gading Tanon Sragen yang Tekuni Home Industri Produksi Empling Singkong dengan Alasan Ini…

MESKI sudah berusia senja, namun perjuangan Rinem (56) dan sang suami Pardi (61) patut diacungi jempol. Sebab, warga Dukuh Ngledok RT 17, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, ini menekuni usaha empling singkong dalam kondisi penuh keterbatasan. Tapi ada niat mulia seperti ini…

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN, REPORTER: HURIYANTO

PAGI itu, Rinem dan Pardi sudah sibuk di dapur belakang rumah. Terlihat pawon (tungku) tradisional berbahan bakar kayu menyala dan mengeluarkan asap. Terdapat dua buah kendil berisi air direbus di atas tungku kayu tersebut.

Terlihat juga pasangan yang sudah lanjut usia ini tengah mengolah singkong dari pembelian di kebun tetangga. Gunungan singkong yang sudah dikeluarkan dari karung tersebut langsung dikupas menggunakan pisau. Kemudian diparut diolah menjadi camilan tradisional berupa empling singkong. Kuliner tradisional ini adalah makanan khas Desa Gading.

Pekerjaan membuat empling singkong ini sudah digeluti pasutri ini sekitar 25 tahun. Singkong yang sudah berhasil dikupas kulitnya selanjutnya dicuci. Setelah bersih, singkong dibawa kembali ke dapur untuk diparut secara manual.

Setelah diparut halus, kemudian dicampur bumbu dapur, seperti bawang putih, merica, garam, penyedap rasa dan bumbu rempah-rempah tradisional yang ditumbuk halus.

Agar hasil produksinya tetap sehat, Rinem memakai sarung tangan plastik untuk mencetak adonan. Setelah semua adonan dicetak lantas diletakkan di atas anyaman bambu yang kemudian dijemur di atas kenteng rumah hingga kering.

Setelah kering dan mengeras sore harinya adonan singkong singkong tersebut selanjut ya siap untuk di goreng di dalam minyak goreng yang telah mendidih di atas tungku tradisional sekitar pukul 16:00 Wib.

Setelah selesai di goreng, Empling selanjutnya ditiriskan hingga dingin dan selanjutnya dikemas di plastik besar. Kemudian menunggu keesokan harinya untuk dijual di pasar tradisional Desa Gading.

Saat menjual produksinya ini, Rinem hanya mendapat keuntungan kecil. Meski demikian dia tetap menekuni pekerjaan ini lantaran hanya keahlian inilah yang dimiliki. “Tidak punya sawah Mas, hanya pekerjaan ini yang bisa saya lakukan,” tuturnya ketika ditemui tepianindonesia.com di sela aktivitas di dapur Minggu 17 November 2019.

Semangatnya yang luar biasa ini hanya satu, yakni mempertahankan dan melestarikan makanan zaman dulu. “Soalnya saat ini sudah jarang orang kampung bikin makanan kayak gini> Ya biar tetap lestari makanan ini,” tuturnya, sambil tersenyum.

Empling singkong hasil produksinya banyak digemari orang. Selain pasar Desa Gading, empling buatannya juga digemari pengunjung Pasar Gabugan Tanon.

Selain itu, membuat empling juga mejadi penghasilan utama keluarga. Di balik produksi empling ini, terselip kesedihan yang mendalam bagi pasangan yang hidup di rumah reyot berbahan anyaman bambu dan kayu serta beralaskan lantai tanah ini.

“Kalau berjualan di luar hanya saya sendiri. Soalnya Mbah Kakung nggak bisa. Mbah Kakung mengalami kebutaan sejak tahun 90-an gara-gara bekerja di sawah mencangkul tiba-tiba kedua mata terkena cipratan tanah. Dibawa ke rumah sakit dan di operasi malah jadi buta sampai saat ini,” bebernya Rinem.

Rinem berharap, usaha kecil miliknya mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk terus menjaga dan melestarikan makanan tradisional khas Sragen. Salah satunya berharap bantuan alat-alat produksi. Karena selama ini dirinya masih mengunakan alat masih serba tradiaonal. (*)