Mahasiswa KPI IAIN Surakarta Banyak Petik Pelajaran dari Outing Class di Omah Mbudur Magelang, Ini Pengalamannya

TEPIANINDONESIA.COM-MAGELANG-Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (Prodi KPI) Semester 3 IAIN Surakarta menggelar outing class Rabu 27 November 2019. Kegiatan belajar di luar kelas ini berlangsung di Omah Mbudur dan Galery Lidiah Art Desa Wanurejo, Magelang.

Banyak pelajaran yang dipetik dari kegiatan tersebut. Mahasiswa dapat mengambil hikmah dari falsafah Jawa, makna berkesenian, dan lain sebagainya. Outing class ini dilakukan dalam rangka observasi budaya dan seni masyarakat di kawasan Candi Borobudur.

Acara ini didampingi oleh dosen mata kuliah Public Relation (PR) Mohammad Qoyim, S.Sos., M.Si. “Mahasiswa sangat terkesan dengan keunikan dan keharmonisan dalam lingkungan Omah Mbudur ini. Bukan hanya itu, mereka juga kagum dengan bentuk-bentuk kerajinan yang diletakkan di sudut-sudut tertentu agar terkesan menarik jika dilihat,” terangnya dalam rilis yang diterima tepianindonesia.com Sabtu 30 November 2019.

Sementara itu, pemilik Omah Mbudur yang dikunjungi mahasiswa ini adalah Nuryanto. Dia sekaligus penggiat kerajinan dan kesenian di Kabupaten Magelang sejak 1999-an. Dulu dia hanya ditemani dua karyawan dan beberapa industri kerajinan saja, tapi kini sudah terbentuk 12 industri kriya, 350 kios dan 50 karyawan.

“Sebagian karyawan yang bekerja di sini ada yang dari sarjana. Kemudian ada yang dari mantan tenaga kerja wanita (TKW). Masih banyak dari latar belakang sosial lainnya,” ujar dia.

Dalam industri kriya tidak tertuang seorang senimannya. Sehingga Nuryanto lebih mementingkan optimalisasi potensi diri seorang seniman untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Jadi, dia tidak memperdulikan idealisme lagi.

“Jikalau seniman yang idealis, maka tidak peduli dengan politik yang sedang hangat. Lebih memilih menyepi atau menyendiri untuk membuat sebuah kesenian. Lalu, jika ada sebuah pameran, maka seniman yang idealis itu tadi baru keluar untuk memamerkan hasilnya,” katanya.

Konsep di Omah Mbudur adalah gotong royong, tidak ada bos. Seperti akomodasi, mulai transportasi, makan dan tempat tinggal, Nuryanto bekerja sama dengan pengelola homestay pariwisata. Tetapi ada ketentuan yang dilakukan, yaitu berbagi adil, bermanfaat, dan memberdayakan lingkungan.

Dengan demikian, dalam Omah Mbudur tidak hanya ada kerajinan saja, tetapi ada kuliner, wisata seni budaya, live gamelan, dan masih banyak lainnya. Banyak orang yang menganggap Nuryanto ini adalah seniman gila. Tapi dia tidak pantang menyerah untuk membuat karya keseniannya.

“Ada ayat Jawa yang selalu jadi pedoman saya. ‘Sing sopo gelem mikirke senenge kanggo ning liyan, dewekke arep oleh seneng luwih disik’ (Barang siapa yang mau berfikir kesenangan untuk orang lain, niscaya dia akan mendapatkan senang lebih dulu),” tutur Nuryanto.

Selain Nuryanto, yang menjadi narasumber kegiatan ini yakni Yasin, yang kini bekerja di Bawaslu Kabupaten Magelang. Di sela kedinasan, dia mengikuti komunitas Pesona Magelang. Dia memaparkan destinasi di Kota Magelang ini menjadi sorotan dunia, terutama Candi Borobudur.

“Kunci utama kita bersilaturrahim adalah janganlah banyak bicara, tetapi harus sering banyak mendengar,” kata Yasin, yang dulu pernah nyantri di Pondok Al-Muayyat, Surakarta dan murid dari Mohammad Qoyim, dosen Public Relations IAIN Surakarta.

Outing Class kali ini ditutup dengan kisah dari pendongeng cerita rakyat, yaitu Bambang Eka Bep yang hafal 547 dongeng. Pada kesempatan itu, Bambang hanya mendongeng satu cerita berjudul “Rusa Emas Berhati Emas”. (Yuni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *