Balita Berumur 11 Bulan Asal Desa Jati Tengah Sukodono Sragen Menderita Seperti Ini Butuh Uluran Tangan Segera…!

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Trenyuh. Ya, jika melihat lebih dekat Samara Kumaira Mariba, bocah berusia 11 bulan asal Dukuh Ndayu RT 17 RW 05, Desa Jati Tengah, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, ini cukup memprihatinkan.

Anak pasangan suami istri Wanto (30) dan Etik Susilowati (29) ini menderita penyakit langka di bagian jari tangannya. Sehingga butuh uluran tangan segera pemerintah maupun masyarakat luas untuk membantu pengobatan.

Wanto dan Etik buruh serabutan dan ibu rumah tangga, saat ini hanya bisa pasrah dengan keadaan anak nomor dua yang sedang sakit parah ini. Pada jari tangan sebelah kanan bengkak terus membesar.

Pada wartawan, Etik mengatakan, awal mula penyakit parah yang dialami putrinya tersebut saat dirinya masak di dapur. Anaknya ditidurkan di salah satu tempat tidur. Pada saat itu kutu kucing menggigit jari tangan bocah tersebut.

Mengetahui anaknya digigit kutu kucing, Etik langsung membuang kutu tersebut dari jari anaknya. Tidak lama kemudian, jari tangan bekas gigitan kutu kucing ternyata malah muncul benjolan dan semakin hari tidak kunjung hilang.

“Bentolnya nggak kunjung hilang. Terus saya bawa berobat ke pukesmas di kasih salep untuk pembengkakan itu tambah besar. Terus saya bawa ke bidan agak berkurang saya bawa lagi ke bidan itu malah tambah besar,” kata Etik, Jumat 6 Maret 2020.

Penyakit tidak kunjung sembuh, juga membuat Etik dan Wanto membawa putrinya tersebut dokter spesialis anak. Oleh dkter itu dikasih obat puyer dan tambah bengkak.

“Di situ saya bawa ke rumah sakit umum Sragen. Katanya suruh rawat inap tapi tidak dapat kamar. Beberapa hari kemudian saya pindah ke Amal Sehat. Waktu itu kontrol beberapa kali tambah bengkak terus. Tambah bengkak di rujuk ke rumah sakit Solo,” bebernya

Merasa tidak ada perubahan, Etik dan keluarga juga melakukan kontrol beberapa kali. Namun hasilnya juga tidak kunjung berkurang. “Terakhir katanya disuntik tapi ke klinik bidan pribadi karena obatnya tidak bisa dibawa ke rumah sakit,” ujar dia.

Hingga dilakukan pengobatan kesana kemari, kondisi anak Perempuan Etik dan Wanto tidak menunjukan perubahan untuk sembuh, bahkan kondisi jari tangan putrinya tersebut malah semakin membesar dan mulai menimbulkan warna merah kehitaman.

“Sampai saat ini tidak menunjukan tanda tanda mengempis malah tambah besar. Sempat saya tanyakan ke rumah sakit lagi buat kontrol itu katanya malah infeksi terus ke dokter bedah anak katanya tumor dan infeksi, kalau infeksinya tidak mereda harus di amputasi,” jelasnya.

Selama pengobatan kesana kemari, keluarga miskin ini juga mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Menurutnya pengobatan sekali berobat bervariasi.

“Pemeriksaan pakai BPJS tapi untuk nebus obatnya harus bayar sendiri, sekali nembus ada yang Rp 200 ribu dan Rp 300 ribu. Terus Rp 150 ribu, Rp 100 ribu, nggak pasti juga kadang. Kalau hanya sirup Rp 50 ribu, Rp 60 ribu,” beber Etik.

Terpisah, Wanto sang ayah terlihat memerah wajahnya ketika sejumlah awak media menyambangi dirinya. Ketika itu dia berada di rumah tetangganya untuk konsultasi dan minta saran guna bantuan pengobatan putrinya.

Bahkan sesekali Wanto tidak kuasa memendung air mata yang semakin menetes. “Pengennya cepat sembuh, di tangani sama pemerintah biar cepat sembuh seperti dulu lagi. Segala upaya sudah kita lakukan, keluarga saat ini hanya bisa pasrah karena tidak punya apa apa lagi. Kemarin habis biaya Rp 11 juta sampai utang,” ujarnya.

Mengetahui warganya sedang dilanda musibah tersebut, Muhammad Amin, ketua RT 17 Dukuh Ndayu merasa prihatin. Dia tidak menampik bahwa keluarga tersebut memang keluarga miskin dan tidak mampu.

“Iya benar keluarga tidak mampu, semoga segera ada penanganan dari pemerintah langsung. Karena penyakit ini berbahaya anak ini harus segera mendapat penanganan serius,” jelasnya (reporter: Huriyanto)