Sepi Pembeli dan Order Mandek, Pengrajin Batik Masaran Sragen Berhenti Produksi Karena Dampak Covid-19

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Dampak virus corona atau Covid-19 membikin pengrajin batik Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah berhenti produksi.

Para pengrajin berhenti produksi lantaran minat pembeli kain batik menurun drastis. Pantauan di lokasi sentra produksi kain batik Pilang Masaran, nyaris tidak ada aktivitas.

Beberapa pengrajin yang sehari-hari memproduksi kain batik, kini terlihat sepi dan tidak ada aktivitas pekerja produksi kain batik. “Dampak virus corona membuat pengrajin kain batik di Pilang benar-benar berhenti produksi,” kata Sugiyamto, anggota DPRD Sragen, Kamis 30 April 2020.

Mereka berhenti produksi sudah tiga bulan. Saat ini kalau produksi menunggu orang pesan dulu baru diproduksi.

“Karena masyarakat sekarang berfikirnya tidak mungkin mau beli baju. Mereka mikirnya bagaimana cadangan tabungan mereka mampu buat makan beberapa hari atau beberapa buoan kedepan,” jelasnya.

Menurut Sugiyamto, terdapat 400 orang lebih karyawan yang produksi kain batik di Desa Pilang. Mereka saat ini harus berhenti dari tempat pekerjaan mereka sehari-hari.

“Di tempat saya ada sembilan karyawan. Tadinya kita rumahkan dan kita gaji 50 persen. Tapi lama-lama kita juga nggak kuat. Makanya kita panggil mereka dan kita berikan THR lebaran tahun ini sekalian kita kasih tahu produksi kain batik mungkin setelah keadaan normal kembali,” bebernya.

Produksi kain batik anjlok total dialami seluruh pengusaha di desa Pilang, Sugiyamto berharap agar wabah virus corona ini segera hilang dari muka bumi, agar ekonomi di wilayah Pilang segera kembali normal.

“Iya biasanya tahun tahun sebelumnya puncak puncaknya penjualan batik itu pas mau lebaran atau puasa minggu ketiga. Itu penjualan batik sangat tinggi pesanannya tapi sekarang malah sebaliknya. Ya mudah mudahan wabah ini segera hilang dari muka bumi ini agar bisa kembali normal seperti dulu lagi,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Sukisno, warga Pilang Rt 13, Masaran, Sragen. Dirinya sudah tak lagi produksi batik partai besar sejak wabah corona mulai masuk di Indonesia. Selain itu dirinya juga menyampaikan bahwa selama 20 tahun produksi batik baru mengalami lesu pemasaran ya lebaran tahun ini.

“Saat ini kan masyarakat yang dibutuhkan itu makan, jadi untuk kain seakan akan tidak ada yang membutuhkan. Karena tidak ada pesanan otomatis karyawan sata juga saya berhentikan,”ujarnya.

Banyak pengrajin kain batik asal Pilang, Masaran menjual batik mereka ke sejumlah kota di Indonesia. Seperti Solo, Jogjakarta, Jakarta, Bandung, Bali. (reporter: Huriyanto)