Gigitan Kutu Kucing Berubah Tumor Ganas Renggut Satu Bocah di Sragen, Ini Kronologinya

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Kabar duka dari Sragen, Jawa Tengah. Balita malang bernama Tsamara Khumaira Mariba, yang baru berusia 17 bulan meninggal dunia di RSUD dr. Moewardi Solo.

Bocah tersebut divonis mengidap tumor ganas gara-gara di gigit kutu kucing beberapa bulan lalu akhirnya meninggal dunia. Warga Dukuh Dayu, Desa Jatitengah, Sukodono, Sragen itu mengalami pembengkakan pada jari manis akibat gigitan kutu kucing.

Kabar itu disampaikan Wanto (30), sang ayah kepada wartawan seusai pemakaman, Kamis pagi. Putri kedua pasangan Wanto (30)-Etik (29) mengembuskan nafas terakhir sempat mengalami masa kritis.

Balita mungil itu sempat drop, setelah menjalani perawatan di Solo. Wanto mengungkapkan, putri bungsunya itu terakhir kali dalam kondisi mengalami penurunan trombosit. “Meninggalnya dinihari tadi pukul 01.40 WIB di RSUD dr Moewardi Solo,” kata, Jumat 29 Mei 2020.

Kepergian Tsamara menyisakan duka mendalam bagi pasangan yang berprofesi sebagai buruh serabutan itu. Perjuangan panjang tak kenal lelah mereka untuk mencari kesembuhan buah hatinya itu, harus berakhir.

Tsamara dimakamkan di pemakaman umun dukuh setempat. Duka dan air mata dari keluarga dan warga mengiringi kepergian balita tersebut.

Sejak kasusnya mencuat di media terus mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bahkan putrinya kemudian dirawat di RSUD Moewardi Solo untuk kemo terapis. “Tidak jadi dioperasi, tapi dilakukan kemo therapi,” tukasnya.

Etik, ibunda Tsamara dua bulan lalu mengungkapkan sebenarnya putrinya itu terlahir normal. Benjolan itu berawal ketika Tsamara berusia 3 bulan atau pada bulan Juli 2019 sempat melihat ada hewan kutu kucing sedang menggigit jari manis tangan kanan.

Kutu berwarna hitam itu langsung ia singkirkan. Rupanya gigitan kutu itu menjadi awal dari petaka. Bekas gigitan kutu itu menimbulkan benjolan yang makin hari makin membesar.

“Awalnya hanya bentol kecil. Saya kira hanya bentol biasa, ternyata kok nggak hilang-hilang. Saya bawa berobat ke Puskesmas. Di Puskesmas dikasih salep untuk bentolnya tapi tidak ,” papar Etik kala itu.

Karena bengkaknya makin besar, ia kemudian membawa putrinya berobat ke bidan. Sempat agak mengecil, tapi kemudian bentol di jari manis itu kembali membesar dan memerah.

Ia pun memutuskan untuk membawa putrinya ke dokter spesialis anak dan oleh dokter diberi obat puyer. Sempat juga dibawa ke RSUD Sragen namun tidak mendapatkan kamar untuk rawat inap. Kemudian dirujuk ke RSDM Solo.

“Beberapa kali berobat dan kontrol di Solo, bengkak di jarinya sempat agak berkurang,” ucapnya.

Saat ditangani dokter bedah anak, putri kecilnya itu divonis menderita tumor dan infeksi sudah menyebar. Jika tak segera tertangani, maka tidak ada jalan lain kecuali dilakukan amputasi untuk mencegah penyebaran penyakitnya.

“Dengar amputasi itu, saya langsung lemes Mas. Hanya bisa nangis. Saya nggak tega. Harapannya kalau bisa disembuhkan dan tidak diamputasi,” tutur Etik.

Pasangan Wanto dan Etik tercatat sebagai keluarga tidak mampu dan tinggal di rumah kecil berdinding kayu. Selama pengobatan di RSUD, Etik mengaku biayanya ditanggung BPJS.

Setiap kali menebus resep obat diluar tanggungan BPJS antara Rp 150.000 hingga Rp 300.000. Semua biaya itu, merupakan hasil ngutang lantaran penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk kebutuhan keluarga. (reporter: Huriyanto)