Tangani Covid-19, Tenaga Medis di Kabupaten Sragen Jawa Tengah Diteror

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Seorang petugas medis di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mendapatkan ancaman saat menjalankan tugas di lapangan dalam penanganan virus corona (Covid-19). Teror itu datang dari seseorang yang mengatasnamakan koordinator salah satu pondok pesantren.

Kasus teror berupa intimidasi tersebut dialami oleh seorang tenaga medis perempuan yang bertugas di UPTD Puskesmas Kecamatan Kedawung 2 pada Jumat 29 Mei 2020. Pesan ancaman kepada bidan perempuan berusia 53 tahun itu, mengaku mengatasnamakan salah satu kelompok klaster atau pondok pesantren.

“Pengirim pesan mengatasnamakan kelompok dari salah satu klaster,” ujar Kepala UPTD Puskesmas Kedawung, Sragen, dr.Windu Nugroho kepada wartawan, Senin 1 Juni 2020.

Dalam pesan WhatsApp si pengirim pesan teror itu tidak menyebut identitas. Pelaku hanya menyebut merasa tidak terima atas penanganan dan perlakuan terhadap pasien positif covid-19 yang dianggap menzalimi mereka.

“Kami sudah koordinasi dengan Pak Camat dan Pak Kapolsek. Hal ini demi memberikan kenyamanan pada staff kami yang merasa tidak nyaman akan ancaman tersebut,” tuturnya.

Tak hanya menyebut merasa dizalimi, pengirim pesan juga mengancam akan melakukan pembalasan dengan caranya sendiri dan dalam waktu singkat atau lama.

Berondongan pesan WA bernada ancaman itu diterima tak lama setelah ia bersama tim Puskesmas melakukan penjemputan terhadap salah satu pasien positif covid-19 dari wilayah Kedawung.

Bahkan saking ketakutan, petugas medis perempuan itu dan beberapa petugas lainnya di Puskesmas tersebut masih trauma. Sehingga meminta diri untuk sementara tidak menangani persoalan pasien Covid-19.

Laporan dugaan aksi teror itu juga sudah sampai pada Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen.

Windu juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh tim medis dalam melakukan rapid test dan mengantar ke lokasi karantina bagi pasien positif. Semua sudah dijalankan sesuai prosedur.

“Semua kami lakukan sesuai prosedur. Yang bersangkutan minta dijemput di jalan, tidak di rumahnya, kami sudah menuruti,” papar dia.

Sebenarnya, lanjut dia, penanganan pasien pun tidak ada yang berbeda dengan yang lain. Kalau ada yang di-rapid test positif dan diswab sudah positif maka memang harus dikarantina. “Tapi ini kok malah diancam. Kami sudah bertugas lelah, berisiko malah diancam. Staff saya jadi takut. Kalau takut kan kita jadi susah,” paparnya.

Laporan akan ancaman yang diteriman petugas medis corona Sragen, langsung ditanggapi Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Dia sudah memberikan pendampingan terhadap salah satu bidan di Pukesmas Kedawung tersebut.

“Sudah dilaporkan ke pihak kepolisian didampingi camat, kita tinggal menunggu hasilnya. Tapi hari ini suasanya juga sudah kondusif tidak ada ancaman berikutnya atau komunikasi berikutnya juga udah ngak ada,” kata Mbak Yuni. (reporter: Huriyanto)