Musim Kemarau Tibau, Ini Persiapan Pemkab Sragen Hadapi Bencana Tahunan Ini

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Belum hilang sepenuhnya bencana non-alam pandemi Covid-19, masyarakat kini dihadapkan pada bencana tahunan musim kemarau. Pemkab Sragen pun sudah menyiapkan langkah menghadapi musim kemarau ini.

Terdapat tujuh kecamatan di Sragen setiap tahunnya dilanda kekeringan air bersih, 7 wilayah tersebut. Yakni Kecamatan Jenar, Tangen, Gesi, Sukodono, Mondokan, Sumberlawang, dan Miri.

Ditemui wartawan, Kepala Ex Officio BPBD Sragen Tatag Prabawanto menyampaikan, ancaman kekeringan di Kabupaten Sragen terjadi setiap tahun. “Kalau kekeringan itu sudah sesuatu yang rutin yang ada di Kabupaten Sragen. Tapi sampai hari ini belum ada keluhan yang sangat mendesak, namun kami dari BPBD siap mengatisipasi bila terjadi kekeringan,” katanya Kamis 2 Juli 2020.

Tidak hanya musim kemarau yang jadi ancaman kekeringan. Tapi eksploitasi air dengan sumur sibel saat ini merebak dan sudah melebihi ketentuan sehingga air permukaan tidak lama lagi akan habis. Bahkan dampak dari sumur sibel ini sudah menambah daftar kekeringan di berbagai wilayah Kabupaten Sragen.

Pembuatan sumur sibel dilakukan oleh masyarakat yang tidak disertai dengan perizinan dan kajian analisi dampak lingkungan. Apalagi dalam penanganan sumur sibel ini menjadi wewenang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

Kondisi ini menurut Tatag harus segera menjadi kajian dan pemahaman kepada masyarakat agar tidak mengeksploitasi air secara berlebihan.

“Daerah baru (kekeringan) itu kan akibat merebaknya sumur sibel yang mereka mengeksploitasi air sudah melebihi ketentuan. Dan mereka ini yang harus mulai disadarkan, air permukaan pasti akan habis. Efek kedepannya efek lingkungan hidup harus menjadi salah satu bahan kajian dan pemahaman kepada pemilik sumur sibel,” jelas sekda Sragen, ini.

Permasalahannya, lanjuta dia, sumur sibel itu dilakukan oleh orang per orang, dan penanganannya ada di ESDM provinsi. Sehingga butuh sinergi antara pemkab dan pemprov. “Apapun yang terjadi ini akan membawa dampak di kabupaten itu memiliki banyak sumur sibel,” ujar Tatag.

Pihaknya juga sudah melakukan persiapan lebih manakala kekeringan terjadi di luar prediksi BPBD. Sementara itu data BPBD menyebutkan kekeringan tahun lalu melanda 210 Dukuh, di 36 Desa Tujuh Kecamatan. (reporter: Huriyanto)