Pabrik Sepatu Asal Korea Bakal Didirikan di Tanon Sragen, Ini Reaksi Pemilik Lahan

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Sejumlah petani asal Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah menolak berdirinya pabrik sepatu asal Korea, aksi penolakan pabrik sepatu itu juga sudah dimulai dengan memasang sejumlah spanduk yang bertuliskan “Tanah ini tidak dijual” dan beberapa papan kayu bertuliskan ”Tidak Dijual”.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dilapangan, terdapat puluhan petani asal Bonagung Tanon menolak keras rencana berdirinya pabrik sepatu terbesar di Sragen tersebut. Parno (51) warga Bonagung Rt 25 ditemui di lahan miliknya, ia menyampaikan bahwa tanah miliknya seluas 3500 meter tidak akan dijual.

”Iya saya pribadi menolak keras berdirinya pabrik sepatu di tanah ini mas, disini sudah ada 16 orang petani yang telah memasang tulisan tanah ini tidak di jual,” jelasnya Kamis 9 Juli 2020.

Menurut Parno, informasi pertama kali rencana berdirinya pabrik sepatu di wilayah Bonagung itu pertama kali diproleh dari ketua RT setempat. Bahwa warga yang memiliki tanah di Desa Bonagung Dan Desa Gading Tanon bakal dibeli dengan harga tinggi oleh seseorang dengan rencana untuk dibangun sebuah pabrik besar.

”Kemarin informasi pertama dari pak RT, beliau datang kerumah saya dan mengatakan bahwa tanah saya akan dibeli dan selanjutnya untuk di bangun pabrik sepatu mas,” bebernya.

Hal senada juga disampaikan oleh Lamiyo (60) Bonagung RT 24, menurutnya tanah seluas 2 ribu meter miliknya juga sudah di tawar bahkan menurutnya ia sudah di iming-imingi uang ratusan juta.

”Saya tidak setuju dan kemarin saya tolak mas, saya bakal mempertahankan tanah ini apapun yang terjadi mas,” terangnya.

Alasan kuat Lamiyo menolak penawaran itu dengan alasan ia ingin menjaga tanah peningalan orang tua yang telah meninggal dunia, selain itu tanah tersebut juga untuk anak cucu yang akan datang.

”Ini untuk pengayem ayem hidup saya yang udah tidak muda lagi ini, ini juga untuk pencarian makan sehari hari saya dan anak anak saya nanti, berapapun saya tidak akan jual mas,” ujarnya.

Pantauan di lokasi sekitar tanah yang bakal dibangun pabrik itu juga petani sudah ramai – ramai pasang tulisan penolakan dan tulisan tanah tidak dijual. (reporter: Huriyanto)