KILAS SEJARAH: Peninggalan Artefak di Desa Patihan Sidoharjo Sragen Peninggalan Majapahit?

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Sejumlah peninggalan bersejarah di Desa Patihan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah bakal dipelihara dan dirawat. Sejumlah barang bersejarah berasal dari batu seperti lumpang, yoni, dan makam kuno bakal ditelusuri asal peninggalan tersebut. Dugaan sementara berasal dari zaman Majapahit.

Camat Sidoharjo Susilohono menyampaikan, di Desa Patihan cukup banyak ditemui peninggalan bersejarah. Keberadaan sejumlah barang bersejarah itu sudah lama ada di sekitar desa Patihan. Pihaknya sudah melihat ada beberapa titik di Desa Patihan.

Pihaknya sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen. Lantas dilakukan pengecekan oleh dinas terkait. ”Keberadaanya sebenarnya sudah lama, ada pula makam tua. Tapi sosok yang ada di dalam makam kami kurang tahu. Tapi yang jelas itu makam peninggalan jaman kerajaan dahulu,” tuturnya Selasa 14 Juli 2020.

Dia menyampaikan masyarakat desa setempat juga sudah menjaga dan ada upaya melestarikan. Namun masih sulit untuk mengungkap sejarah peninggalan kuno tersebut. Dia menjelaskan sisa peninggalan massa kerajaan tidak hanya di satu tempat di Patihan.

”Di Desa Patihan ada beberapa tempat, tidak terfokus pada satu tempat saja, yang sudah diketahui ada 3 makam yang dilestarikan., tapi sejarahnya belum detail. Kadang kala juga ada yang berkunjung,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Sragen Agus Endarto membenarkan adanya peninggalan massa kerajaan di wilayah desa Patihan. Pihaknya lantas menduga peninggalan tersebut berasal dari jaman majapahit. ”Belum dipastikan, tapi diduga dari zaman majapahit. Itu belum dilakukan penelitian,” terang Agus.

Dia menyampaikan setiap penemuan artefak bernilai sejarah bisa jadi aset dari pemerintah, baik oleh desa maupun kabupaten. Dia menegaskan penemuan sejarah tersebut dilindungi undang undang. Lantas perawatannya diserahkan ke pihak desa, bisa di letakkan di tempat semula, namun bisa juga dipindah ke tempat lain yang aman. (reporter: Huriyanto)