Tepian Indonesia

Bukan Karena Corona, Jalan Kampung di Sragen Ini “Di-lockdown” Permanen Pakai Herbel dengan Alasan Ini

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Warga satu RT di Dukuh Ngeledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen, Jawa Tengah kehilangan akses keluar masuk kampung, Senin 3 Agustus 2020.

Hal ini disebabkan akses jalan kampung ditutup permanen dengan herbel. Jalan “di-lockdown” ini bukan karena pandemi corona tapi persoalan kepemilikan tanah warga.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, kabar penutupan jalan akses keluar masuk warga itu pertama kali diunggah di media sosial Facebook oleh akun Heri Rebbin. Dia menulis “Tulung dulur2..niki kok jalan.ngledok,gading,tanon,sragen. ditutup…sedangkan dari simbah’y dulu ini tanah dikasih jalan buat anak cucu’y..tapi kenapa kok ditutup gini..mohon penceramahan’y.”

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Heri mengatakan bahwa penutupan jalan dengan herbel dilakukan pemilik tanah. “Ditutup sama yang punya. Yang nutup namanya Sonem, ditutup tadi pagi (Senin 3 Agustus 2020) dengan herbel,” jelasnya.

Menurut Heri, jalan yang diblokir itu merupakan jalan akses yang digunakan oleh warga setiap harinya. Ia juga mengatakan, tanah tersebut awalnya memang milik pribadi.

“Tanah pribadi, dulu punya simbahnya. Dulu pernah berpesan untuk dibuat jalan terus oleh anaknya tidak mengizinkan untuk jalan, anaknya mungkin dulu belum tahu,” bebernya.

Selain itu, jalan dengan lebar 2,5 meter dan panjang 20 meter warga berharap segera kembali dibuka, agar bisa digunakan oleh warga yang lain. “Dampak penutupan satu RT tidak bisa lewat, sehingga warga harus muter ke jalan utama harus muter, muter sekitar setengah kilometer.
Ini sudah dilaporkan pihak desa harapan warga kalau bisa dikasih jalan lagi pak,” harap Heri.

Sementara itu, Kades Gading Puryanto tidak menampik adanya penutupan jalan di wilayahnya. Menurut Puryanto, penutupan jalan itu bermula saat pemilik tanah merasa tidak dihargai dan tidak terima.

“Dia tidak terima, dibuat jalan karena tanahnya milik dia minta nggak boleh buat jalan, ya sudah diminta untuk ditutup. Permintaan dia lapor ke desa kalau tanahnya dibuat jalan untuk orang Ngeledok,” kata Kades Gading.

Menurut Puryanto, warga Ngeledok juga menyadari bahwa tanah itu milik pribadi. Awalnya tanah itu pekarangan lalu dibuat tanah tembus. Warga Ngeledok dulu tidak bilang, langsung dibangun sampai 3 meter.

“Lalu keluarga Mbah Sonem lapor ke desa. Karena itu kebon sendiri ya udah, mau dibeli warga juga nggak boleh untuk jalan,” bebernya.

Menurut Puryanto, hari ini rencana warga akan ramai-ramai membongkar jalan tanah pribadi tersebut. “Menurut mereka dulu membangun jalan tersebut mereka yang membiayai. Tidak ada masalah apa-apa tidak protes karena itu tanah pribadi,” ujarnya. (reporter: Huriyanto)