Menengok Potensi Kampung Durian di Kaki Gunung Lawu Sragen Jawa Tengah, Digagas Kades Pensiunan Pegawai Pertanian

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Banyak yang belum tahu jika Kabupaten Sragen memiliki potensi kebun buah durian. Nah, belakangan ini muncul Kampung Durian di Desa Karangpelem, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

Awal mula kampung durian Desa Karangpelem digagas oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Karangpelem. Ketika itu melihat situasi dan kondisi struktur tanah Desa Karangpelem yang mampu ditanami pohon buah durian dengan suasana berhawa sejuk dan cukup dingin di bawah lereng Gunung Lawu.

Di desa ini, bahkan hampir semua rumah warga tumbuh buah durian cukup lebat. Sebagian di antaranya malah sudah berbuah besar-besar dengan jenius buah montong.

Ditemui di kediamannya, Kepala Desa Karangpelem Suwanto pada wartawan menyampaikan bahwa di wilayah terdapat 2.800 pohon. “Iya bibit durian yang kami bagikan ke warga sejak tahun 2018 ini tumbuh subur,” katanya Sabtu 24 Oktober 2020.

Setiap rumah dapat dua bibit dan sekarang sudah tumbuh lebat. Paling dua tahun lagi sudah pada panen, dan sebagian ini juga malah sudah berbuah. Program pemberdayaan durian di desanya itu dirintis tiga tahun silam. Berawal dari pengalamannya beruji coba menanam durian di pekarangannya yang ternyata bisa tumbuh dan berbuah lebat.

Jiwanya yang suka pertanian, makin mendorongnya untuk berinovasi membantu warga melalui program pembagian bibit durian. Kala itu, total ada 2.800 bibit durian varietas montong super yang didatangkan dari dana APBDes dan kemudian dibagikan ke semua warga.

“Kebetulan saya pensiunan pegawai pertanian. Setelah diamanahi menjadi Kades, saya mencoba menggali potensi desa. Karena saya suka pertanian, akhirnya muncul gagagasan untuk memberdayakan duren. Saya tanam ternyata bisa berbuah lebat. Lalu saja ajak teman-teman perangkat untuk membahas dan akhirnya kita berdayakan budidaya duren melalui program one village one product (OVOP atau satu desa satu produk unggulan). Nah duren inilah yang akan kami jadikan potensi unggulan,” urainya.

Harga durian yang lumayan mahal, diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Namun lebih dari itu, semangat memberdayakan durian itu juga sebagai upaya mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan yang ada. Lantas menjaga kehijauan lingkungan dan sebagai upaya konservasi udara di wilayahnya.

“Kalau rambutan kan biasanya kalau panen banyak harganya jatuh. Kalau durian kan meskipun panen raya tapi harga tetap stabil mahal. Dengan setiap rumah ada pohon duren, harapan kami juga bisa menjadi daya tarik potensi wisata sebagai desa sentra durian, ” bebernya.

Hingga akhir 2020 ini, umur pohon durian itu sudah jalan tahun ketiga. Sehingga diproyeksikan dua tahun mendatang, sudah akan ada panen raya durian di desanya.

Untuk pengawasan agar tanaman bisa tumbuh baik, pihak desa mempercayakan masing-masing Ketua RT. “Memang nggak semuanya tumbuh karena kadang ada yang kurang rajin nyirami jadi mati. Tapi sebagian besar bisa tumbuh dan lebat juga,” ujarnya.

”Kalau umurnya sudah 15 tahun ke atas, biasanya bisa berbuah puluhan. Tebasannya Rp 700.000 sampai Rp 1 juta perpohon. Jadi selain booming durian, nanti warga juga bisa mendapat penghasilan dari duren ini,” tandasnya.

Salah satu warga, Giyarti (45) asal Dukuh Ledok RT 20/7, mengaku senang ada program bantuan bibit durian dari Pemdes. Ia mengaku dapat dua bibit durian montong yang dibagikan tahun 2018.

Sejauh ini, selama tiga tahun, pertumbuhan tanaman duriannya cukup bagus. Bahkan yang satu pohon di depan rumah, sudah sekali berbuah.

“Pertumbuhannya bagus, yang satu malah sudah berbuah. Kemarin buah pertama lima buah, cukup besar dan kita makan sendiri Mas. Rasanya manis dan bijinya kecil. Senang sekali ada program bantuan bibit durian ini, karena nanti bisa mengangkat potensi desa. Kalau panen kan bisa dijual untuk kebutuhan,” harapnya. (reporter: Huriyanto)