Pedagang Pasar Kota Sragen Tolak Relokasi dengan Cara Aksi Damai di Jalan

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Sejumlah pedagang Pasar Kota Sragen, kios renteng dan Alun-Alun Sragen, menggelar aksi damai penolakan relokasi.

Aksi damai dilakukan diawali dengan jalan kaki dari selatan alun-alun ke arah pasar bolak-balik dua kali. Mereka membentangkan spanduk panjang yang bertuliskan “Tolak Relokasi”, “Dukung Revitalisasi” dan ” Deklarasi Persatuan Paguyuban Pedagang Tolak Relokasi”.

Dari puluhan pedagang tersebut meliputi pedagang kios renteng baik warung bakso, mie ayam, sate, baju, sepatu, parfum, kios potong rambut, salon dan masih banyak lainnya.

Alasan penolakan rencana relokasi ke lantai 2 pasar kota tersebut dari sisi ekonomi menurut mereka sangat merugikan bagi para pelaku ekonomi dan pedagang di kios sepanjang Jalan WR. Supratman Sragen.

Ditemui wartawan, Ganjar Adi (45), ketua Persatuan Paguyuban Menolak Relokasi (P3MR) menyampaikan, para pedagang nekat menggelar aksi. Alasannya, para pedagang khawatir dan belum mendapatkan jawaban yang memuaskan akan rencana pembangunan yang akan dilakukan pemerintah.

“Intinya pertama kita sampai mendeklarasikan paguyuban pedagang menolak relokasi ini dikarenakan kita sudah melalui surat-surat kepada instansi terkait seperti Disperindag ke DPRD ke Bupati tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan,” kata Ganjar Adi, Sabtu 14 November 2020.

Terdapat empat poin penting alasan pedagang menolak Relokasi yang disampaikan dalam aksi demo tersebut, antara lain.

  1. Rencana relokasi ke lantai 2 pasar kota sangat merugikan pelaku ekonomi dan pedagang.
  2. Alasan yang diungkapkan oleh pihak Disperindag Kabupaten Sragen sewaktu audiensi dan
    pemunculan wacana relokasi tersebut adalah untuk pelebaran jalur kereta api double track dan kereta cepat ternya bohong besar karena kami sudah konfirmasi secara
    langsung ke PT. KAI DAOP 6 Jogjakarta dan sejauh ini belum akan menggunakan lahan tersebut.
  3. Kami tidak pernah dilibatkan sejak awal terkait dengan relokasi tersebut karena wacana
    awal di tahun 2017 tentang revitalisasi pasar kota, lantai 2 pasar kota peruntukkannya
    buat sentra batik.
  4. Surat-surat yang kami sampaikan selama ini ke Bupati Sragen, DPRD Kab. Sragen, Kepala Disperindag dan Plt. Bupati Sragen belum ada tindak lanjut dan jawaban yang memuaskan.

Kalau ini terjadi sama saja memaksa kami para pedagang mas, karena apa pembangunan yang sudah sudah aja mangkrak dan tidak bisa dihidupkan,”Untuk mengisi kekosongan lantai dua itu memaksa kami untuk pindah dilantai dua,” bebernya.

Berikut ini beberapa tuntutan yang dilakukan oleh puluhan pedagang kios renteng mengelar aksi Deklarasi persatuan paguyuban pedagang menolak Relokasi.

  1. Mendukung sepenuhnya pembangunan dan atau revitalisasi pasar kota sesuai
    dengan peruntukannya bagi para pedagang yang sekarang sudah berada di pasar kota
    Sragen.
  2. MENOLAK DENGAN KERAS rencana RELOKASI pedagang di sepanjang Jl. WR.
    Supratman (utara rel) dari palang kereta pasar sampai dengan Tugu Kliteh.
  3. Menuntut Pemerintah Daerah Kab. Sragen terutama Disperindag kab. Sragen untuk
    melibatkan kami dalam pembahasan terkait hal tersebut di atas.
  4. Meminta supaya kios kami direvitalisasi (dibangun dan dipercantik) bukannya direlokasi
    ke lantai 2 pasar kota, sehingga terbangun sebuah kawasan wisata, belanja dan kuliner.

(reporter: Huriyanto)