Menengok Lebih Dekat Kampung Gasing di Sragen Jawa Tengah, Jaga Permainan Tradisional di Tengah Gempuran Teknologi

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Gasing mainan tradisional jaman dulu yang mulai ditinggalkan anak-anak milenial saat ini, perkembang jaman dan teknologi Handphone ( HP) menjadi salah satu penyebab utama mainan tradisional ini mulai ditinggalkan.

Namun ditengah canggihnya teknologi dan perkembangan jaman, rupanya Gasing mainan tradisional yang terbuat dari kayu ini masih di produksi oleh Parjan (63) dan Dirjo Wiranto (65) warga Kampung Karang, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

Dua saudara ini setiap beberapa kali masih terlihat memproduksi mainan tradisional Gasing, bahkan baru baru ini Gasing buatan kakak beradik ini mampu dijual hingga luar kota Sragen.

Ditemui disela-sela kesibukannya membuat pesanan Gasing, Parjan mengatakan bahwa sudah lama dirinya memproduksi Gasing ini bersama sang kakak ( Dirjo ) untuk dijual,”Iya sudah lama buat mainan ini, sudah sejak kecil saya bikin mainan Gasing kayak gini, tapi kali ini bikinGasing kalau ada pesanan saja,”jelasnya, Selasa 1 Desember 2020.

Gasing buatan Parjan dan Dirjo sudah di pasarkan ke beberpa kota seperti Solo, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Jogyakarta bahkan beberapa waktu lalu pesanan datang dari kota Nganjuk Jawa Timur,”Allhamdulilah sedikit-sedikit ada yang pesan kadang anak anak sekitaran sini kadang juga anak anak luar kota, kemarin terakhir pesanan dari bapak Joko dari daerah Nganjuk Jawa Timur,”bebernya.

Mainan Gasing terbuat dari kayu landeng jawa ini rupanya sudah jadi lengenda di dunia Gasing. Kayunya yang bagus dan kuat serta mudah dibentuk ini juga menjadi berkah tersendiri di tengah pandemi Corona atau Covid 19.

Parjan dan Dirjo juga merasa terbantu akan adanya media sosial Facebook dan Youtube untuk memasarkan produk mereka, terbukti dari promosi di medsos baru baru ini keuntungan cukup tinggi didapatkan di tengah kesulitan ekonomi karena Corona.

“Alhamdulillah kemarin pesanan dari Nganjuk, untuk ukuran dewasa sebanyak 12 buah di beli seharga Rp.600.000 sementara ukuran anak anak Rp. 40.000 x 12 = Rp. 480.000 total kemarin dapat Rp.1.080.000 ( satu juta delapan pupuh ribu rupiah ) pendapatan yang rumayan bagi kami di tengah pandemi tidak bisa bekerja apa-apa, kemarin kita kerjakan selama satu minggu pesanan Gasing itu mas” Jelas parjan.

Sementara itu, Drs. Joko Harsono, M.Si Sekretaris FORMI yang sekarang menjadi KORMI Kabupaten Nangjuk, Provinsi Jawa Timur selaku pelestari permainan olahraga tradisional Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia menyampaikan bahwa memang mainan tradisional perlu di jaga dan dilestarikan.

“Iya benar kemarin saya ke Sragen pesan Gasing dirumah bapak Parjan, allhamdulilah bisa ketemu sekalian silahturahmi dengan pembuatnya langsung. Benar kemarin Gasing kita bawa ke Nganjuk dan disini kita lestarikan mainan tradisional ini, disini antusias anak anak main Gasing sangat luar biasa,”bebernya.

Seperti di beritakan sebelumnya, bermain gasing tradisional dilakukan disela – sela waktu luang setelah musim tanam Padi di sawah.

Sejumlah warga melestarikan permainan tradisional Jawa yang mereka berinama ” Gangsingan atau sering disebu Gasing yang terbuat dari bahan kayu landing Jawa pete cina).

Cara pembuatannya juga cukup mudah, warga hanya mengunakan alat – alat sederhana seperti Gergaji, Kampak, Alat ukur meteran, Grenda, Pasah Kayu, Palu.

Proses pertama memilih kayu yang akan digunakan selanjutnya memotong patang kayu, setelah di pilih kayu langkah selanjutnya dipotong – potong kecil – kecil dengan ukuran 16 cm.

Setelah kayu terpotong potong kemudian di desain dengan cara di petel dengan alat kampak baik bagian bawah dan desain kepala gangsingnya.

Setelah di jadi gangsing yang sudah terbentuk itulah kemudian di haluskan dengan cara di grenda dan di percantik lagi dengan amplas.

Ketika gangsing sudah jadi, langkah selanjutnya pembuatan wet atau tali yang terbuat dari kulit pohon waru yang sudah di rendam di air selama 3 sampai 4 hari dan kemudian di lilit seperti membuat tali tambang atau menyerupai cambuk dengqn panjang 2 sampai dengan 3 meter sesuai selerai masing masing pemain.

Ketika wet ( tali ) dan gangsing sudah jadi selanjutnya belasan warga berkumpul di salah satu halaman rumah warga, mereka saling memainkan gangsing – gangsing andalan mereka untuk di di tarungkang, gangsing yang berputar lebih lama maka mereka menjadi pemenang dan gangsing yang kalah harus di patu ( ditabrak ) oleh gangsing gangsing yang berputar lebih lama tadi saat start atau cari poin.

Begitulah cara pembuatan dan cara memainkan gangsing tradisional yang ada di Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen.

Selain itu, ternyata Parjan selain ahli dalam membuat gangsing tradisional ternyata Parjan sehari – hari berprofesi sebagai tukang kayu di rumahnya. ” Iya mas biasanya anak anak pada minta tolong ke saya suruh bikinkan gangsing, selain anak anak juga orang dewasa ikut minta tolong suruh menbuatkan gangsing untuk di mainkan bareng – bareng sore hari,” bebernya.

Parjan Sangat berharap meski jaman sudah semakin maju, dirinya sangat berharap agar anak – anak generasi saat ini tidak meninggalkan permainan – permainan tradisional jaman dulu.

“Semoga anak anak bisa tetap melestarikan permain tradisional seperti ini, jangan hanya main game di hp saja, tapi bisa bermain permaian ini bareng bareng sama teman lebih baik,” Harapnya.

Sebagai tambahan, permainan gangsingan ini masih terjaga selalu di mainkan setiap tahunya di Dusun Karang, Desa Gading.
Baik anak anak dan Remaja dan Orang tua meskin permainan tradisional semakin ditingalkan. (reporter: Huriyanto)