Pertahankan Kearifan Lokal, Petani Desa Gading Tanon Sragen Tetap Lestarikan Tradisi “Wiwitan Metil Pari”

Era milenial ini seakan menggerus tradisi budaya Jawa yang sudah menjadi kearifan lokal masyarakat. Namun, di tengah-tengah moderinasi seperti sekarang ini, petani Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi “wiwitan metil pari”.

HURIYANTO, TEPIANINDONESIA.COM

METIL pari merupakan istilah Jawa yang artinya memulai atau awal memanen padi. Kegiatan tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah yang telah memberikan rezeki berupa panen padi melimpah.

Mbah Admo (75) warga Dukuh Karang Kulon, Desa Gading, salah satunya yang masih menanamkan budaya Jawa pada generasi muda saat ini. Dia bersama istri berangkat ke sawah membawa perlengkapan ritual.

Upacara tersebut mirip dengan kondangan atau kenduren. Acara ini dilengkapi dengan membawa nasi, ingkung ayam, kerupuk dan lauk pauk lengkap lainnya yang ditaruh di daun pisang dan daun jati, lalu dilengkapi dengan merang dan kemenyan untuk di bakar terlebih dahulu sebelum didoakan bersama.

Tradisi metil padi atau wiwitan boyong Mbok Dewi Sri dilakukan di sawah Ny Karti (55) warga setempat. “Kalau orang Jawa percaya metil ini agar bisa ayem tentrem dan bisa bermanfaat pagi pemilik sawah. Ini boyong Mbok Sri bawa ke rumah agar bisa ayem tentrem padinya bermanfaat,” kata Mbah Admo, Kamis 4 Februari 2021.

Tradisi metil atau mengucap syukur pada sang pencipta adalah salah satu adat orang Jawa. Tujuannya adalah minta keselamatan dan kelancaran serta dijauhkan dari bahaya maupun hama yang bisa merusak tanaman padi.

“Iki tradisi mbah biyen lee, nak parine pengen apik lemu karo dijauhke soko omo mulo budoyo jawi iki kudu do dilakokne lee, mergi opo awak e dewe iki wong jowo ya jalok berkah e gusti seng eso wenehi rejeki lewat pari nang sawah iki,” bebernya Mbah Admo.

Kalau dibahasakan Indonesia artinya ini tradisi simbah dulu nak, kalau padinya ingin bagus, kemu dan dijauhkan dari hama penyakit. Maka budaya Jawa ini diuri-uri dijalankan nak. Karena apa, kita ini orang jawa ya minta berkah pada sang pencipta yang bisa memberikan rezeki nikmat melalui padi disawah ini.

Mbah Admo juga merasa prihatin akan kemajuan jaman seperti saat ini, pasalnya banyak generasi sekarang yang meninggalkan asal usulnya orang Jawa. “Merasa prihatin, pasalnya banyak orang jawa yang meninggalkan tradisi jawanya, yang lain sudah pada meninggalkan adat jawa ini, disini tinggal beberapa orang saja yang masih menjalankan tradisi metil ini,” ujarnya. (reporter: Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *