Ayam Panggang Mbok Denok Kaki Gunung Lawu Jatipuro Karanganyar Jawa Tengah

Jadi Viral dan Ngehits, Ternyata Begini Cara Masaknya

DI kaki Gunung Lawu terdapat sebuah warung makan yang jadi viral dan ngehits belakangan ini. Warung makan ini ayam panggang Mbok Denok, tepatnya di timur kantor Kecamatan Japtipuro, Karanganyar, Jawa Tengah. Seperti apa?

HURIYANTO, TEPIANINDONESIA.COM

Ciri khas ayam panggang mbok Denok yakni cara pengolahan daging ayam masih tradisional. Pemilik warung mempertahankan kayu sebagai bahan bakar. Sehingga menjaga kekhasan ayam panggang yang menggunakan bumbu pedas gurih.

Lantas, yang jadi andalan ayam panggang Mbok Denok bukan ayam bakar, namum ayamnya dipanggang. Pengunjung juga bisa leluasa melihat langsung proses pembuatan ayam panggang yang enak, lezat dan gurih di dapur tradisional bagian belakang warung.

Proses pembuatan yakni, ayam kampung asli yang masih muda, dibelah membujur di bagian dada atau dibekak. Menggunakan sepotong bambu kecil, ayam ditusuk di bagian tengah hingga terbentang. Lehernya diselipkan di bagian bawah dan cakar dibiarkan utuh. Cara bekakak ini sudah jarang ditemui di perkotaan.

Meskipun memakai istilah panggang, ayam tidak langsung diletakkan di atas bara api. Ayam yang sudah dibekakak dimasukkan ke dalam kuali tanah liat yang sudah dipanaskan dengan api kayu bakar.

Untuk mempertahankan cita-rasa, Mbok Denok tetap memakai tungku dengan api kayu bakar pohon jati. Alasannya selain ayam akan matang lebih merata, rasa ayam juga lebih enak karena bumbu akan meresap lebih sempurna.

“Ayam dimasak dengan bumbu tradisional dan dengan bumbu resep dari orang tua saya,” kata Dendy Rismadi, juru masak warung ayam panggang Mbok Denok, Minggu 14 Februari 2021.

Perbedaan lainnya, tidak melalui tahapan diungkep dengan bumbu atau direbus dahulu sebelum dipanggang. Setelah setengah matang dan kulitnya agak kering, ayam ditusuki beberapa bagian.

Tahap akhir barulah ayam direndam bumbu berwarna oranye kemerahan dan dipanggang kembali hingga matang. Karena ditusuki maka bumbupun meresap ke dalam daging ayam.

Bumbu yang dipakai sebagai perendam dan olesan berupa bawang merah, bawang putih, daun salam, lengkuas, kemiri dan gula Jawa. Karenanya rasanya gurih sedikit manis dengan pedas yang tak terlalu kuat.

Aroma wangi ayam dan bumbu yang terus menerus menguap dari kuali-kuali di dapur. Ayam panggang utuh ini disajikan dengan pelengkapnya.

Tiga jenis sambal yaitu sambal terasi, sambal bawang, dan sambal urapan disajikan terpisah. Disediakan juga lalapan berupa daun pepaya muda rebus yang disajikan terpisah.

Meskipun tak direbus dulu, karena ayam kampungnya muda maka daging ayampun terasa gurih empuk. Tak ada lemak berlebihan. Aroma sedap bakaran bumbu terendus kuat. Bumbunya meresap hingga ke bagian dalam daging ayam. Sedap!

Meski warnanya merah oranye, rasanya tidak pedas mennyengat. Gurih pedas sedikit manis rasa ayam ini makin enak diberi sedikit sambal terasi yang menggigit. Diiringi daun pepaya rebus yang renyah pahit, rasa ayam jadi makin mantap.

Karena ukurannya kecil dan rasanya sedap meresap, satu ekor ayampun bisa kami tuntaskan sendirian. Yang paling asyik, jika menyantapnya dengan tangan. Daging di leher hingga cakarpun tak tersisa! Tak heran jika banyak orang ketagihan ayam racikan Mbok Denok ini.

Enaknya warung ini sudah buka sejak pagi hingga sore. Jadi bisa dinikmati buat sarapan atau makan siang. Harganya juga cukup terjangkau. Bisa juga dikemas untuk dibawa pulang.

“Setiap hari kami menghabiskan 50 sampai 100 ekor ayam. Apa lagi kalau hari libur bisa over di atas 100 ekor ayam. Tidak hanya itu selama puasa sampai Lebaran, omset meningkat hingga tiga kali lipat,” ujar Dendy. (reporter: Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *