Jelang Pemilu 2024, Parpol Mulai Melirik Kaum Milenial

TEPIANINDONESIA.COM-KARANGANYAR-Event kontestasi politik ke depan adalah panggungnya anak anak milenial. Bertolak dari asumsi tersebut banya parpol membidik kaum milenial menjadi kekuatan tulang punggung partai pilitik.

DPD Partai golkar karanganyar melalui sayap partainya yaitu Kesatuan Perempuan Partai Golkar ( KPPG ) DPD Partai Golkar bersama Himpunan Wanita Karya menggelar acara pendidikan politik bertajuk Political Education for Young Political Leaders, secara daring di Kantor DPD Golkar Kabupaten Karanganyar, pada Rabu (22/09/2021).

Pendidikan politik dengan acara diskusi yang menghadirkan narasumber yaitu Sekar Krisnauli putri dari Akbar Tandjung yang juga Tim Pendiri Organisasi Kisah Kasih Journalism, anggota DPRD Kota Probolinggo Masda Putri Amelia dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Karanganyar Ilyas Akbar Almadani.

Anggota DPRD Kota Probolinggo Masda Putri Amelia memaparkan, menghadapi sikap masyarakat yang apatis terhadap politik, menjadi tantangan tersendiri dalam lebih melakukan berbagai langkah pendekatan untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat itu sendiri.

“Jadi jangan lelah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat supaya mereka sadar. Dan menurut saya, karena mereka tidak tahu dan tidak sadar, maka mereka menjadi apatis. Dan ketika kita memberikan kesadaran, memberikan ilmu dan pengalaman kepada mereka, Insya Allah mereka juga akan melek politik. Jadi tentunya kita pun harus berjuang unuk membantu masyarakat supaya sadar atau melek politik,” ucapnya.

Menurut Masda, masyarakat terlalu banyak melihat berita di media tentang sudut pandang yang negatif terkait politik. Hal itu tentunya menimbulkan sisi yang kurang seimbang dengan beberapa hal positif yang sebenarnya juga dilakukan oleh para politisi.

“Politisi juga banyak melakukan hal – hal yang baik dan positif. Karena sebenarnya persoalan baik atau buruknya politisi itu ada pada personal masing – masing,” imbuhnya.

Banyak masyarakat yang berpikir bahwa siapa pun tokoh yang memiliki kedudukan politik tertentu tidak berpengaruh bagi kelangsungan nasib hidup mereka. Hal itu juga menjadi tantangan dimana ia harus merubah stigma masyarakat tersebut.

“Karena menjadi politisi itu juga bukan untuk memenuhi kehidupan kita sehari – hari. Akan tetapi bagaimana politisi dapat memperjuangkan apa yang jadi kepentingan kebutuhan masyarakat melalui produk – produk kebijakan melalui undang – undang yang diciptakan,” tandas Masda.

Sementara itu, Sekar Krisnauli selaku Tim Pendiri Organisasi Kisah Kasih Journalism menyampaikan pemaparan terkait sikap apatis masyarakat terhadap politik dari sudut pandang aktivis sosial maupun selaku pegiat literasi.

Senada dengan Masda Putri Amelia, Sekar Krisnauli menilai pendidikan politik yang menyentuh hingga kalangan masyarakat akar rumput masih sangat minim.

“Tidak pun sampai kebawah, katakanlah anak – anak sekolah atau mereka yang sudah duduk di jenjang SMP, mereka juga masih belum terlalu paham tentang politik.
Namun satu hal yang saya sadari dan saya percayai sepenuhnya adalah, kita harus perbanyak diskusi dengan para pakar secara general. Dan itulah yang coba kami lakukan lewat gerakan literasi,” ungkap Sekar.

Sekar juga mengatakan, turun langsung ke lapangan dan bertemu masyarakat untuk bertanya jawab atau melakukan dialog juga menjadi hal terpenting. Karena terkadang dalam posisi sebagai pemilik maupun pendiri atau pemegang kekuasaan, masih memiliki anggapan bahwa mereka tahu apa yang masyarakat butuhkan.

“Padahal belum tentu begitu juga. Maka yang coba kami lakukan di Organisasi Kisah Kasih Journalism adalah membuka dialog atau tanya jawab. Sehingga, apa yang kami lakukan kedepannya secara organisasi bisa lebih sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat. Jadi, mungkin dalam melakukan pendidikan politik kita juga harus tahu apakah sebenarnya masyarakat yang akan kita bantu dalam memahami informasi itu seperti apa. Misalnya, barangkali di antara mereka ada yang belum bisa membaca atau benar – benar belum bisa mencerna apa yang mereka baca tetapi kita memberikan bantuan buku, tentunya itu tidak tepat,” jabarnya.

Organisasi Kisah Kasih Journalism, dikatakan Sekar, menjadi organisasi yang awalnya fokus memberi perhatian bagi komunitas PKL dan berangkat dari kegiatan pembagian sembako. Seiring melihat kebutuhan masyarakat yang minim akan literasi, kini organisasi tersebut mencoba lebih fokus kepada gerakan literasi.

“Jadi kami pun bergerak sesuai apa yang telah menjadi visi misi kami. Mungkin bilamana ada organisasi sosial yang memang tidak mengikuti politik praktis tetapi mempercayai pentingnya pendidikan politik ya nanti mereka bisa melakukan apa yang mereka anggap sesuai,” tandas putri politisi Akbar Tandjung itu.

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Karanganyar menambahkan, acara – acara diskusi atau pendidikan politik memang perlu lebih digiatkan agar masyarakat tertarik untuk mau belajar dan paham tentang pentingnya fungsi politik yang semestinya.

“Terlebih bagi mereka yang ingin mencalonkan diri sebagai caleg, dalam hal ini khususnya perempuan. Karena tentunya jika terlibat langsung dengan politik ataupun akses daripada legislasi, saya merumuskan kebijakan – kebijakan yang tentunya dapat diperjuangkan diparlemen nantinya, jelasnya.

Ada tantangan untuk meraih 30 persen suara pemilih milenial yang mana harus didekati untuk menjadi pendukung 2024 mendatang. Terkait hal itu, Ilyas Akbar Almadani menjelaskan bahwa kedepan pihaknya akan melakukan komunikasi langsung dengan Karang Taruna.

“Karena basis daripada milenial adalah berada di Karang Taruna. Lewat Karang Taruna akan kita komunikasikan supaya mereka lebih paham akan fungsi politik sebagai sarana untuk berbuat kebaikan dan bermanfaat untuk banyak orang,” pungkas politisi muda golkar ini. (Sur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *