Warga Sekitar Museum Purba Sangiran Kalijambe Sragen Berburu Bukur, Kerang “Emas Hitam” Anak Sungai Bengawan Solo

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Warga Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berburu Bukur di sungai maupun di saluran irigasi desa setempat. Bukur adalah salah satu hewan air tawar masuk ketegori jenis kerang dengan ukuran yang kecil dan hidup di dasar sungai.

Bukur yang merupakan kerang “emas hitam” ini bernilai jual. Bahkan, oleh warga hasil panen kerang ini untuk membeli emas. Bukur dapat dipanen atau diambil setiap musim kemarau yang selalu jadi buruan warga Sangiran maupun masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai Cemoro (anak Aungai Bengawan Solo ).

Saat wartawan mendatangi lokasi tempat mencari bukur Rabu 7 September 2022, terlihat belasan emak-emak tengah sibuk mencari kerang ini. Mereka rela menyusuri lorong sungai yang bermuara ke Sungai Bengawan Solo ini.

Mereka menggunakan alat seperti ember, karung, eyekan dari bambu dan senter serta kain gendong. Emak-emak tanpa ada rasa takut memasuki terowongan saluran irigasi dan berendam di air dengan mengumpulkan kerang bukur yang ada dan pilah dan dipilih antara kerang bukur dengan pasir.

Usai Bukur berhasil didapatkan, mereka langsung keluar dari terowongan dan membawa bukur tersebut ke tepi sungai untuk dibersihkan kembali serta disortir antara yang ukuran besar dan kecil.

Naryanti (36 ) salah satu warga Sangiran RT 10, Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen pencari Bukur mengatakan, bahwa musim Bukur biasanya saat air saluran irigasi surut atau pada saat musim kemarau banyak warga mencari Bukur.

“Mencari bukur kayak gini biasanya musiman mas, atau pada saat musim kemarau tiba dan air mulai surut nanti banyak yang mencari bukur,” kata Naryanti, salah satu emak-emak pemburu Bukur.

Selain musiman, ternyata Bukur di Sangiran menjadi kerjaan sampingan bagi ibu rumah tangga. Dalam sehari masyarakat bisa mengantongi uang sebesar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu tergantung hasil Bukur yang berhasil ditangkap.

“Alhamdulillah pernah saat musim Bukur saya bisaa dapat empat cincin emas dan beberapa prabot rumah tangga,” bebernya.

Sementara itu, kerang Bukur biasanya dimasak berbagai jenis masakan seperti dimasak rica rica, kentaki, bumbu asam manis dan lainnya. Bahkan sering dihidangkan di beberapa event besar seperti pasar budaya, dan pameran UMKM, bahkan sempat Bukur dihidangkan saat kunjungan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Sandiaga Uno saat berkunjung di Desa Wisata Punden Tingkir Sangi.

Sekretaris Desa (Sekdes) Krikilan, Aries Rustioko, mengatakan, Bukur merupakan salah satu makanan khas yang ada di Sangiran. “Bukur juga memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Sangiran yaitu budaya akur,” jelasnya.

Menurut Aris, melestarikan makanan tradisional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari melestarikan budaya. Menjaga eksistensi makanan tradisional serta menempatkannya sejajar atau bahkan lebih tinggi dari kuliner asing.

“Akan memberi dampak yang luas bagi masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan selain dengan mengkonsumsi makanan tradisional tersebut dapat juga menjadikannya sebagai oleh-oleh sehingga dapat lebih dikenal. karena bukur adalah produk musiman sebenarya masyarakat jg sdh mulai mencoba budi daya bukur namun belum berhasil, Hasil olahan bukur biasanya juga disajikan dalam kegiatan kebudayaan masyarakat Krikilan, sebagai wujud syukur dan gotong royong,” ujarnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published.