Proyek Rehab Gedung DPRD Sragen Jadi Bahan Rasan-Rasan

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Proyek perbaikan atau rehabilitasi gedung DPRD Sragen menjadi bahan rasan-rasan. Beredar kabar, proyek perbaikan kerusakan dengan anggaran darurat yang selama ini dikerjakan, diduga hanya menjadi ajang pemberi keuntungan salah satu oknum di DPRD saja.

Kabar itu kini bahkan ramai jadi perbincangan di lembaga yang menaungi para pejabat dengan label wakil rakyat itu. “Iya, sudah banyak jadi rasanan. Setiap ada yang rusak karena bencana, malah ada yang senang,” kata salah satu legislator yang minta identitasnya tidak disebut saat berbincang dengan sejumlah wartawan, Sabtu (5/11/2022).

Dikatakan, karena akan ada proyek dan tentu ada sesuatu di balik itu. “Karena pasti yang ngurusi cuma satu orang dan nggak pernah dibahas atau dikoordinasikan dengan yang lain. Kesannya DPRD ini hanya milik dia,” beber dia.

Salah satu proyek yang saat ini berlangsung adalah perbaikan atap dan plafon beberapa ruangan yang hancur diterjang angin pertengahan Oktober lalu. Proyek rehab plafon di ruang paripurna, ruang BK dan komisi itu pun digelontor anggaran tak main-main, yakni Rp 300 juta.

Anggaran berasal dari biaya tak terduga (BTT) yang ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebelumnya beberapa proyek rehab dengan anggaran ratusan juta juga gencar dilakukan dalam dua tahun terakhir. Menurut beberapa legislator, hampir semua proyek itu memang hanya dihandel oleh oknum tertentu.

Sekretaris DPRD Sragen Pujiatmoko menyampaikan, untuk proyek rehab plafon beberapa ruangan yang diterjang angin, saat ini memang masih berjalan. Anggarannya sepenuhnya dari dana BPBD. Ia berharap pengerjaan bisa selesai sebelum jadwal agenda paripurna.

“Untuk proyek rehab plafon anggarannya dari BPBD. Sampai sekarang memang belum selesai. Harapan kami bisa selesai sebelum jadwal paripurna,” ujarnya.

Terpisah, Kepala BPBD Sragen, Agus Cahyono menyampaikan proyek rehab atap plafon DPRD Sragen didanai dari BTT di BPBD senilai Rp 300 juta. Mengingat sifatnya darurat, pengerjaan dilakukan dengan sistem penunjukan rekanan. Proyek itu dikerjakan dengan durasi 45 hari mulai pertengahan Oktober hingga medio bulan November ini.

“Anggarannya dari BTT Rp 300 juta. Durasinya 45 hari. Sejauh ini masih berlangsung dan kalau dari capaian sudah sesuai time schedule,” paparnya.

Ditargetkan proyek rehab itu selesai sebelum paripurna digelar. Ia menyebut anggaran Rp 300 juta itu dialokasikan untuk rehab ruang paripurna, ruang BK dan beberapa ruang komisi. “Mudah-mudahan sebelum paripurna sudah selesai,” tandasnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *