Kupas Permasalahan Pertanian, Pemuda Tani HKTI Boyolali Dialog Bersama Anggota DPR RI Eva Yuliana

TEPIANINDONESIA.COM-BOYOLALI-Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (PT HKTI) Boyolali menggelar dialog bersama Eva Yuliana, anggota DPR RI Dapil V Jawa Tengah.

Dialog menyikapi permasalahan dunia pertanian di Boyolali ini digelar di Resto Bu Yoso Mojosongo Minggu 15 Maret 2020. Dialog dimoderatori oleh Ketua Bidang Advokasi Pemuda Tani Boyolali Widodo Tri Wahyudi.

Di hadapan Eva, Widodo menyampaikan peran pemuda sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada diri pemuda tertanam sebuah semangat dan cita-cita untuk kemajuan bangsa.

Sejarah mencatat bahwa di tangan pemudalah yang paling bersemangat dalam memperjuangan dalam setiap kehidupan. “Untuk itu menjadi pemikiran kami pemuda-pemuda yang tergabung dalam Pemuda Tani HKTI Boyolali tentang pembangunan sektor pertanian,” ungkapnya.

Dikatakan, sektor pertanian bagian terpenting dari kehidupan karena berkaitan dengan ketahanan pangan. Sementara peran pemuda saat ini kurang berminat terjun di sektor pertanian.

“Banyak yang memandang bahwa bertani itu identik dengan berpanas-panasan, bergelut dengan kotor dan hasilnya harus menunggu lama. Banyak masalah permasalahan yang dihadapi petani, salah satunya adalah pemasaran produk pertanian,” kata Widodo.

Dalam sambutannya, Ketua Pemuda Tani HKTI Boyolali Andy Setyo Wibowo menyampaikan, dialog sebagai suatu kesempatan yang baik untuk mengurangi persoalan pertanian. Terlebih narasumber yang diajak dialog adalah anggota DPR RI.

“Mbak Eva Yuliana merupakan anggota DPR RI sekaligus mantan Stafsus Mendag. Maka sangat penting bisa berdiskusi dengan Mbak Eva,” tuturnya.

Di sisi lain, pihaknya juga ingin menyoroti pemasaran pertanian dan meningkatkan minat generasi muda agar mau berprofesi sebagai petani. “Saya berharap Mbak Eva bersedia menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Pemuda Tani HKTI Boyolali dan hadir dalam pelantikan awal bulan depan,” harap Andi.

Sementara itu, Eva Yuliana sangat mengapresiasi Pemuda Tani HKTI Boyolali menggelar dialog ini. Pihaknya menyoroti pertanian yang agak klasik yakni mengenai alih fungsi lahan, pasca panen, bibit, pupuk, masalah SDM, dan generasi muda yang agak kurang tertarik dengan dunia pertanian.

“Jika generasi muda semakin enggan berkarir di bidang pertanian, maka ditakutkan tidak ada lagi yang mengawaki sector agraris. Keenganan generasi muda untuk bertani juga dinilai olehnya akan berimbas pada ketahanan pangan pada masa yang akan datang,” katanya.

Eva berharap Pemuda Tani HKTI Boyolali bisa menjadi garda terdepan untuk mendorong agar anak muda makin tertarik pada sektor pertanian dan memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran sebagai upaya memangkas rantai distribusi pasar, sehingga harga jual petani bisa lebih tinggi.

“Saya minta saudara ketua Pemuda HKTI Boyolali  segera menyusun masterplan Program Kerja untuk saya sampaikan pada Kementerian Pertanian RI. Hasilnya akan saya bawa pada saat pelantikan awal bulan depan,” ujarnya.

Dalam dialog itu, Eva menyatakan kalau demi bangsa dan negara, dia siap menerima perintah untuk menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Pemuda HKTI Boyolali. Di akhir dialog ini pengurus Pemuda Tani HKTI Boyolali dan Eva Yuliana sepakat dan komitmen akan bekerja sama dalam peningkatan program-program pertanian dan pendampingan. (wan)