Jaga Eksistensi Kesenian di Era Pandemi Covid-19, Komunitas Seni Gelar Pertunjukan Daring Di Sragen

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Dampak wabah virus corona atau Covid-19, membuat sektor ekonomi, pemerintahan, pendidikan dan usaha lumpuh. Selain itu juga memengaruhi sejumlah pekerja seni. Sebab mereka kehilangan pendapatan.

Salah satunya adalah seniman dan seniwati di Kabupaten Sragen. Terhitung sejak tiga bulan terakhir, para seniman dan seniwati di Bumi Sukowati nganggur, bahkan ekonomi mereka lumpuh.

Meski terdapak virus corona, namun seniman dan seniwati Sragen tetap berkarya. Yakni dalam menjaga eksistensi, mereka akan menggelar pagelaran Sragenesia Art pada Sabtu-Minggu 11-12 Juli 2020.

Demi menghindari kerumunan penonton, pertunjukan seni ini bakal disiarkan secara langsung melalui Live Streaming Youtube di 30 channel video shoting di Sragen.

Para seniman dari berbagai komunitas berkesempatan menunjukkan eksistensinya setelah lama vakum karena Covid-19. Agenda rutin tahunan Sragenesia Art terpaksa dikonsep berbeda daripada sebelumnya. Karena wabah panggung unjuk gigi para seniman dirancang secara online untuk menghindari kerumunan penonton.

Seniman Sragen Ari Purwanto menyampaikan, ada keresahan dari para seniman di era wabah Covid-19. Terutama di sektor pementasan dan pelengkapnya. Lantas para seniman sepakat melanjutkan Sragenesia Art yang sudah berjalan dua tahun terakhir.

”Tercetus tema pada gelaran kali ini yakni ”Mbubak”. Kalau mbubak itu punya makna membuka, kita sinkronkan dengan program pemerintah yakni New Normal. Kita hubungi teman teman sanggar seniman di Sragen,” katanya.

Pementasan pada Sragenesia Art 2020 ini digelar dengan kolaborasi semua kelompok peserta. Pada Hari pertama nanti semua kelompok pertunjukan memainkan pertunjukan bergantian selama 3 jam. Pelaksanaan dilakukan di halaman kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen. ”Teman teman semangatnya tinggi, ada arahan dari kita agar tetap ada nuansa Sragenan,” ujar pria yang akrab disapa Ari Ndayak, ini.

Setelah ini juga dilakukan pertunjukan lanjutan yang digelar di 10 kecamatan di Sragen. ”Kelompok yang belum pentas disini akan dilakukan kecamatan, dilakukan streaming juga,” terang Ari.

Dia menyampaikan pertunjukan ini tidak digelar asal-asalan. Dalam kegiatan ini juga mendatangkan sejumlah kurator kenamaan. Seperti diantaranya Musisi Solo Gun Gunarto, Koreografer Eko Supriyanto/Eko Pece, Eko Wahyu dan Maestro Cokek Karno KD.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Sragen Agus Endarto menyampaikan pada masa wabah Covid-19 ini dilakukan dengan daring. ”Antusias teman-teman seniman ini kuat. Karena dimasa Sawanen ini untuk berkarya juga sulit. Kita dorong untuk pentas dan mengeluarkan karyanya masing-masing,” bebernya.

Dia menjelaskan pementasan meliputi seni tari, musik, teater dan fotografi. Dengan ini para seniman yang terpaksa puasa selama tiga bulan bisa melepaskan kerinduannya untuk berkarya.

Pimpinan Kelompok seni Sedap Malam Sri Riyanto atau Sri Damen menyampaikan ada 30 kelompok dan sanggar yang berpartisipasi. Dia sendiri mengaku tiga bulan terakhir harus bekerja dengan cara diluar kesenian untuk menghidupi keluarga. ”Cari kerjaan di luar kesenian, karena tanggapan ndak bisa,” keluhnya.

Dia menyampaikan saat new normal ini seniman bingung. Karena ada kabar kebijakan simpang siur. Seperti sudah boleh ada kegiatan keramaian dengan protokol kesehatan. ”Kendalanya seniman siap, tapi yang punya hajat belum siap,” ujarnya. (reporter: Huriyanto)