Usai Tikus Menyerang, Kini Petani Sragen Dipusingkan Hama Burung Emprit

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Para petani di wilayah Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, resah adanya serangan hama burung. Fenomena serangan hama burung emprit ini sudah berlangsung sejak dua minggu ini, saat padi mulai berbuah atau isi.

Sarwo (64), warga Desa Gawan, Kecamatan Tanon, menuturkan, serangan hama burung emprit sudah berlangsung hampir dua minggu ini setelah tanaman padi brudak. “Wah ini sudah tak bisa dikendalikan lagi Mas. Ratusan bahkan ribuan burung emprit meresahkan petani,” tuturnya ketika memasang kelambu di sawah Senin 24 Agustus 2020.

Saking parahnya, Sarwo terpaksa memutar otak membeli jaring untuk dipasang di sawah guna untuk tetap bisa panen. “Terpaksa ini harus beli jaring mas untuk menangulangi hama burung ini, ini saya pasang jaring lembut di atas tanaman padi dengan panjang jating 100 meter dan luas 4 meter dengan harga Rp 100 ribu,” bebernya.

Sarwo dibantu saudaranya Jailani (50) sibuk memasang jaring pada tanaman padi miliknya di atas lahan seluas satu hektar di wilayah Gawan. “Kalau tidak dipasang jaring kayak gini pasti gak bakal panen mas, soalnya habis di makan burung, tiap hari jaga juga capek tiao hari dari pagi sampai sore makanya ini kita pasang jaring jaring ini dan sudah menghabiskan uang 1.800.000 untuk modal pasang jating ini,” ujarnya.

Pantauan di lokasi, ada belasan petani di Desa Gawan yang telah memasang jaring burung di sawah. Tidak hanya itu, keluhan serupa juga mulai muncul di wilayah Desa Gading, Tanon, Sragen.

Sejumlah tanaman padi milik warga Gading mulai di serang rombongan burung emprit, salah satunya sawah milik Dirjo Wiranto (60). Ia mengeluhkan sudah sepekan ini tanaman padi jenis ketan putih di makan burung emprit, bahkan kini ronda siang hari dilakukan di sawah, untuk menjaga padi agar bisa tetap panen.

“Burung ini sangat meresahkan dan menjengkelkan, serangan rombongan burung ini biasanya ada 10 sampai 20 ekor burung memakan padi saya, sehingga saya dari pagi jam 6 sampai sore melakukan ronda siang hari di sawah sampai nanti benar benar burung ini hilang,” ujarnya. (reporter: Huriyanto)