COVID-19 PENGHALANG ATAU PENUMBUH KREATIVITAS?

Oleh: Ulil Hamam

KKN MDR EQUILIBRIUM
Kampus Institut Pesantren Matholi’ul Falah (IPMAFA) Purworejo Margoyoso Pati

MEMBICARAKAN kreativitas, secara tidak langsung juga akan berkaitan dengan keahlian. Suatu kreativitas yang muncul, kemudian dipentaskan tentunya mengandung sebuah nilai tertentu. Nilai (value) tersebut umum disebut dengan sebuah karya dari hasil ide atau pemikiran seseorang yang terjawabkan dalam suatu bentuk.

Secara tidak langsung, gagasan serta pemikiran memiliki peran yang sangat penting. Seperti halnya apa yang ditulis oleh Winda Chan dalam artikelnya, bahwa sebesar apapun ide atau pemikiran seseorang ketika tidak terwujud dalam suatu karya, maka ide serta pemikiran yang besar tersebut hanyalah sebuah kekosongan.

Oleh sebab itu, tidak jarang sebuah kreativitas itu lahir dari suatu ide atau pemikiran yang kecil, kemudian tertuang dalam sebuah karya. Meskipun ide tersebut kecil, namun dia tertuang, dieksekusi melalui sebuah pemberian makna terhadap sesuatu yang ingin ditampilkan dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Pertanyaannya kemudian, bagaiamana dengan realitas pandemi (Covid-19) yang kita hadapi saat ini? Akankah sebuah kreativitas tersebut terhambat dan terhalang, atau malahan pandemi menjadi penumbuh semangat kreativitas?

Ada sebuah penggalan kalimat yang unik, dari sebuah syair lagu yang diciptakan oleh Iwan Fals bahwa;

Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya……”.

Dalam sebuah perwujudan suatu kreativitas, terdapat suatu tujuan yang mulia. Salah satunya adalah setelah kreativitas tersebut terwujud, maka hal itu dapat dinikmati oleh semua kalangan. Akan tetapi, semua itu bukanlah utama.

Sebab, proses mewujudkan karya tersebut cukup mengundang berbagai rintangan. Jika seseorang yang sedang menggarap suatu kreativitas tersebut konsen, maka sebuah karya akan terwujud, begitu juga dengan sebaliknya.

Melihat perkembangan kasus pendemi Covid-19, kita akan dikagetkan dengan berbagai kreativitas yang muncul. Namun, banyak juga yang terhalang, sekaligus terhambat kreativitasnya efek pandemi ini. Sebagai contoh kreativitas yang bermunculan adalah dalam bidang masker yang banyak model, warna dan bentuknya.

Hal ini terwujud, kemudian dinikmati oleh semua orang, dikarenakan proses kreativitas tersebut benar sesuai jalannya. Dalam artian, pandemi tidak menjadi alasan untuk menghentikan sebuah ide, pemikiran yang dituangkan dalam sebuah karya kreativitas.

Modal utama yang menjadikan proses tersebut tetap berjalan adalah sebuah semangat, kemudian ide cerdas sekaligus kreatif bermunculan. Tidak terbatas pada memunculkan ide, kemudian berhenti pada tahap ide. Melainkan, melanjutkan proses tersebut dalam tahap perwujudan.

Seperti yang dilansir oleh media Kompas, bahwa setidaknya sebuah kreativitas muncul disebabkan antara lain; mengetahui apa yang memunculkan gairah, kemudian menemukan suatu ide tertentu. Pada tahap inilah kemudian dilanjutkan proses kreativitas.

Namun, begitu juga dengan sebaliknya, ketika takut akan sebuah kegagalan, kemudian tidak jelas arah tujuan dari pengembangan ide pemikiran, maka sebuah ide tertentu tidak akan pernah berproses, kemudian berkembang menjadi sebuah hasil kreativitas.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa sebuah ide pemikiran akan selalu ada dalam segala kondisi. Baik itu kondisi pandemi, maupun dalam keadaan non-pandemi (normal), yang membedakan hanyalah bagaiamana sikap atau respons kita terkait keadaan tersebut.

Sebagai pelajaran kita bersama, bahwa ketika kita tengok sejarah, banyak pendiri bangsa ini yang dalam keadaan serta posisi terjepit, tersudut, namun secara kilat dapat mengatasi hal yang mengancamnya, dengan ide pemikiran yang lahir kemudian diteruskan ke dalam bentuk kreativitas yang dibutuhkan. Sebagai kalimat penutup, setidaknya kita masih ingat syair lagu yang didendangkan oleh Group Band Legendaris Koes Plus, bahwa;

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Kalimat ini mengisyaratkan bahwa ide kreativitas akan terus ada, selagi masih ada semangat dan kemauan dalam bergerak mewujudkan suatu hal. Wallahu Alam bi As-Showab…….(*)