Waspadai Perubahan Cuaca di Tengah Pandemi Covid-19, Banyak Warga Alami Keluhan Seperti Ini

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini berbarengan dengan perubahan cuaca. Dampak di tengah masyarakat yakni menurunkan daya tahan tubuh atau imun. Rata-rata masyarakat mengeluhkan demam, batuk, pilek, hingga sesak nafas.

Masyarakat pun mengaku was-was dengan gejala seperti ini tertular Covid-19. Hal ini mengingat Sragen masih zona merah dan angka kematian masih cukup tinggi.

Kondisi ini dinilai penanganan tenaga medis masih minim lantaran kapasitas rumah sakit overload dan kelangkaan oksigen. Fenomena itu salah satunya ditemukan di wilayah Kecamatan Ngrampal.

Fakta itu terungkap saat anggota DPRD asal Kebonromo, Ngrampal, Tono menyambangi dan mengecek beberapa warga yang terpapar sakit di rumah. Legislator asal Partai Nasdem itu menyambangi rumah Eti Sulandari (42), salah satu warga Dukuh Ngrampal RT 33, Kebonromo. Di rumah Eti, ada tiga orang yang terbaring sakit.

Selain suaminya, kedua orangtuanya Madiyono (69) dan Supriyati (66) juga terbaring sakit. Ia menuturkan sudah sepekan lebih, orangtuanya sakit dengan gejala demam, lemas dan sesak nafas.

“Yang agak parah Bapak dan Ibu. Bapak kemarin sempat sesak, saya sampai bingung panik harus gimana. Alhamdulillah kemarin begitu dapat oksigen kondisi bapak sudah lumayan membaik,” kata Eti, kemarin Senin 12 Juli 2021.

Eti menuturkan kedua orangtuanya hingga kini belum dilakukan swab sehingga tidak diketahui apakah terpapar covid-19 atau tidak. Kondisi orangtuanya baru mulai membaik setelah susah payah dicarikan obat ke klinik di Sragen dan bantuan oksigen.

Tak jauh dari rumah Eti, ada Warniyati (45) yang juga masih terbaring sakit dengan kondisi positif Covid-19. Sudah beberapa hari, wanita itu terpapar di rumah dengan pengobatan mengandalkan dari klinik obat.

Warni bahkan sempat kolaps dan kejang-kejang sebelum kemudian terselamatkan oleh tabung oksigen yang dicarikan oleh Tono.

“Sebelumnya satu keluarga kami juga mengalami demam panas dingin. Yang parah istri saya sempat sesak nafas dan batuk pilek. Keterangan dari klinik katanya Covid-19. Saya bawa pulang karena rumah sakit penuh. Kemarin sempat nafasnya sengal-sengal, Alhamdulillah setelah dapat oksigen mulai membaik,” tutur Suradi, suaminya.

Sementara itu, Tono menyampaikan fenomena banyaknya warga terbaring sakit dengan gejala mengarah Covid-19 itu sudah terjadi hampir tiga pekan terakhir.

Kondisi itu terjadi hampir merata di beberapa desa di wilayah Ngrampal. Ia mengaku prihatin lantaran banyak warga yang sakit terbiarkan di rumah dengan hanya mengandalkan pengobatan semampunya.

Padahal mayoritas menunjukkan gejala yang mengarah pada Covid-19. Sementara kondisi semua rumah sakit saat ini penuh dan pengobatan di klinik juga tidak melayani rawat inap pasien dengan gejala Covid-19.

“Kami prihatin sekali. Hampir tiap hari pontang-panting disambati warga sakit parah. Rumah sakit penuh, klinik nggak mau merawat. Kemarin ada yang sudah lemes, ada petugas medis dimintai tolong untuk infus di rumah karena darurat, juga nggak mau mau tenan. Lha terus disuruh berobat kemana kan bingung. Akhirnya kebanyakan hanya dirawat semampunya di rumah,” ujarnya.

Selain itu, Tono mencatat selama tiga pekan terakhir, hampir tiap hari ada laporan minimal 3 sampai 4 orang warga di wilayah Ngrampal yang meninggal akibat mendapat penanganan intensif.

Atas kondisi itu, ia sangat berharap pihak Puskesmas hingga bidan desa setidaknya bisa proaktif terjun ke warga. Siapa saja warga yang sakit segera diperiksa dan diswab. Jika memang hasilnya positif Covid-19 dan tidak tertampung di rumah sakit, tidak masalah dibiarkan dirawat di rumah namun tetap dikontrol dan diberikan obat secara rutin.

Dengan begitu warga yang sakit bisa disembuhkan dan risiko kematian bisa ditekan.

“Ini situasinya sudah luar biasa dan benar-benar darurat. Kalau memang rumah sakit penuh, Puskesmas juga, ya paling tidak petugas medis dan bidan desa itu lebih aktif ke lapangan. Mengecek dan memberikan pengobatan. Bukan ketika dilapori tidak ada respon sama sekali. Kemarin kami sampai kesal, sudah tahu kondisi warga kolaps dan butuh infus, disuruh nginfus nggak mau,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto menyampaikan untuk kondisi oksigen saat ini memang menjadi problem di hampir semua daerah dan nasional.

Terkait desakan agar nakes Puskesmas dan bidan desa terjun melakukan pengecekan dan penanganan pasien di rumah, ia menyebut kendalanya adalah keterbatasan personel.

“Saat ini nakes sudah kewalahan melakukan upaya tracing, swab dan penanganan yang positif. Lalu ada nakes dan bidan desa gang positif juga sehingga sulit untuk bisa ke lapangan,” ujarnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *