Warga Desa Tanggan Gesi Sragen Sambat 30 Tahun Jadi Korban Bau Pembuangan Limbah

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Puluhan tahun jadi tempat pembuangan sampah dan tinja, ratusan warga di Desa Tanggan, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah protes. Mereka mengancam tutup paksa TPA Tanggan jika pemerintah tidak memberikan solusi dan perhatian.

Berdasarkan pantauan di lapanagan, terlihat tumpukan sampah berbagai jenis menjulang tinggi dan lokasi semakin meluas membuat sejumlah masyarakat disekitar TPA Tangan mengeluh bau dan khawatir akan kesehatan terganggu.

Ketua RT 02, Desa Tanggan, Sutiman (45) saat ditemui mengatakan saat ini kondisi TPA Tanggan sudah semakin meresahkan karena kondisi sampah yang sudah menggunung dan overload.

Tidak hanya melebihi ketinggian permukiman, gunungan sampah juga telah meluber mendekati permukiman di sekitar.

Menurutnya ada 4 RT yang saat ini makin terdampak yakni RT 1, 2, 14 dan 15 dengan total hampir 250 KK.

“Kalau dulu mungkin belum begitu meresahkan. Tapi sekarang sudah overload, makin melebar dan mendekat ke permukiman. Sekarang jarak gunungan sampah ke permukiman di sebelah barat hanya 300 meter. Ini sangat-sangat mengganggu terutama dampak bau yang setiap hari makin menyengat. Belum lagi dampak lalat dan nyamuk yang sekarang tidak lagi musiman tapi tiap hari menyerbu ke permukiman, selain itu juga pembuang tinja ikut menambah bau semakin tak sedap, pasalnya tinja mengalir di sungai masuk ke lingkungan warga,” kata Sutiman.

Selain itu, selama ini penderitaan warga desa Tanggan tak pernah mendapat perhatian maupun kompensasi untuk fasilitas kesehatan maupun perbaikan gizi.

Sutiman menyebut sudah hampir 6 tahun dirinya dan warga di 4 RT berjuang menuntut kompensasi, namun hanya sekali saja diberi sembako.

Hal senada juga disampaikan, Ketua RT 1 sekaligus anggota BPD, Suramto (43) menyampaikan kondisi gunung sampah yang makin overload memang sudah sangat meresahkan.

Di wilayah RT 1 yang berdomisili 65 KK, saat ini jarak dengan gunung sampah hanya 300 meter. Imbasnya, hampir semua warga setiap hari makin terdampak dengan bau menyengat, serbuan lalat maupun nyamuk.

“Kalau awalnya masih agak jauh, sekarang sudah dekat bahkan satu RT semua merasakan baunya. Kami di rumah sendiri sampai nggak nyaman karena bau sampah yang makin menyengat apalagi kalau hujan. Bayangkan hampir 30 tahun, kami sudah nggak tahan Mas,” ujarnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *