Memori Tanah Ambles di Dukuh Dulas Desa Gading Tanon Sragen Bagi Petani Sekitar, Ini Kisahnya

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Trauma mendalam masih dirasakan sejumlah warga Dukuh Dulas, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Mereka masih terngiang tragedi mengerikan tanah ambles yang terjadi sekitaran tahun 1998.

Bencana alam tanah ambles dengan kedalaman 13 meter di Desa Gading, Tanon, Sragen hingga hari ini masih menjadi berbincangan oleh sebagian orang, dan bahkan sulit dilupakan oleh masyarakat yang kehilangan tempat tinggal mereka.

Cerita tanah ambles dan trauma mendalam diceritakan langsung oleh Ngadiyo (60) warga setempat. Awal mula terjadinya tanah ambles di pemukiman warga terjadi pada malam hari. “Iya yang benar-benar ambles jadi korban waktu itu 3 rumah dan rumah warga yang ikut terancam ambles sekitar 25 rumah, kejadian jumat kliwon pas malam hari,” kata Ngadiyo, Rabu 3 November 2021.

Meskipun tidak ada korban jiwa, namun pada waktu kejadian banyak warga yang panik dan berhamburan keluar rumah dengan rasa ketakutan akan fenomena tanah ambles yang terjadi di tengah-tengah lingkungan warga. “Tiga rumah itu milik bapak saya pak sarindi, sakimen, ngadiyo waktu kejadian tidak ada hujan tidak ada angin tiba tiba waktu itu suaranya bruuk begitu mas,” bebernya.

Akibat kejadian itu 28 KK terdampak tanah ambles di desa gading tidak memiliki tempat lokasi tanah dan akhirnya 28 KK langsung ditempatkan di tanah kas desa untuk kembali membangun rumah tinggal.

“Waktu itu bupatinya pak untung, dia nyuruh pindah ya kita pindah semua di tanah milik pemerintah sampai saat ini dan setiap tahun juga pajek 50 ribu per KK lewat ketua RT baru disetorkan ke pak lurah, kalau sekarang warganya udah nambah KKnya sekitar 36 KK,” ujarnya.

Pantauan di lokasi tanah ambles di kampung Dulas saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, di lokasi tragedi yang merugikan puluhan anggota keluarga tersebut saat ini hanya di tumbuhi rumput liar dan sejumlah pohon keras. Bahkan meskipun sudah diminta untuk pindah oleh pemerintah dari lokasi bahaya tersebut, masih ada 3 warga yang masih tetap bertahan di tanah kelahiran meskipun bahaya longsor atau ambles kapan saja mengancam.

Tiga rumah yang masih bertahan antara lain milik Suminem (69), ia mengatakan tetap berada di lokasi tanah rawan longsor itu dikarenakan sudah dikasih pesan oleh seorang dari Solo,”Ngeh boten wedi, wong empun diwelingi kaleh pak hadiningrat solo sanjang kowe ojo ngaleh ngaleh soko kene yo, nengok kene wae yo pokok e selamet ora ono opo opo neng kene ngonten,” ujarnya.

Tanah ambles sempat mengembarkan masyarakat luas dari berbagai daerah di jawa tengah dan jaw timur, banyak orang yang penasaran ingin melihat langsung lokasi tanah ambles dan kemacetan kampung ke kampung di desa gading. Hal itu disampaikan Dinah (60).

“Macetnya sampai mana mana mas dari karang kulon, pasar gading, dayan, gading, tritis sampai lokasi sini dulu sampai pelawak bernama pak Kirun juga sampai sini ngiyup dirumah mboke saya, datang pengen melihat tanah ambles,” ujarnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *