Bangkitkan Seni Rodad Desa Bukuran Sragen, Ini Statmen Spirit Kades Heriyanto

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Sempat terhenti bertahun-tahun, kesenian Rodad asal Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah kembali dimunculkan.

Ribuan masyarakat Desa Bukuran nampak berbondong-bondong datang menyaksikan kesenian tradisional Rodad yang digelar di lapangan setempat, Sabtu 7 Mei 2022 malam.

Rodad adalah bentuk seni tradisi masyarakat Sragen yang berkembang seiring dengan masuknya agama islam. Dalam seni ini menggabungkan antara nyanyian berupa syair yang dibuat khas dan tarian tarian serta atraksi- atraksi yang dapat membuat penonton tercengang.

Salah satu pemain Rodad dan sekaligus pengerak Rodat Wiji demang (43) warga Bukuran Rt 10, Bukuran, Sragen pada wartawan mengatakan bahwa Rodad sudah ada sejak jaman nenek moyang dan sudah berlangsung turun temurun digelar setiap tahunnya di Desa Bukuran.

“Ini adalah tradisi nenek moyang, saat masih kecil saya sering menyaksikan pertunjukan rodad yang dilakukan langsung orang tua kampung kami, dulu ada mbah daklan, deri, damiri, basri, daroni. Tapi rodad dengan berkembangnya zaman sempat terhenti sejenak pada tahun 1990,” kata Wiji.

Menurut Wiji, tradisi kesenian Rodad terhenti selain perkembangan jaman juga gara gara pemain pemain Rodad sudah tidak ada, maupun tidak ada yang meneruskan.

“Iya terhenti karena banyak sekarang hiburan musik modern, dan allhamdulilah ini bisa kita hidupkn kembali sejak 2019, sekarang anggotanya sudah 30 orang lebih,” bebernya.

Kesenian Rodad sendiri terdiri dari beberapa atraksi, mulai atraksi debus, tarian, pepeling penebus dosa dan lainnya.
Tradisi Rodad selalu di gelar di tempat oro oro atau di tengah sawah dan lapangan.

“Iya ada menari sari rodad atraksinya unik, natural, atraksinya ada badan diikat tali, roda putar, kala jengking kaki diangkat, nyanyi buto buto galak ini tadi, harapan jangan sampai mati lagi Tradisi ini, generasi muda bisa ikut latihan trus dan ini warisan orang tua kita dari nenek moyang,” harapnya.

Terpisah, kades Bukuran
Heri yanto saat ditemui menyampaikan bahwa Rodad pada jaman dulu digunakan nenek moyang sebagai media penyebarkan ajaran agama Islam di Desa Bukuran.

“Ini bertepatan pada hari raya idul fitri, ini bersama sama membangun desa bukuran dengan kita mengumpulkan warga kita tampilkan tarian Rodad, karena ratusan tahun lalu sudah mati suri, namun ketika kita masuk di dunia pemerintahan ini kita munculkan kembali Rodad ini, iya yang saya tau seperti itu Rodad ini dulu digunakan untuk menyebarkan agama islam, bahasa Rodad ini yang saya tau adalah loro kalimat sahadat dan nyanyian juga identik dengan penyebaran agama,” ujarnya.

Kades Bukuran juga berharap kedepannya Rodad akan dimunculkan sebagai icon desa wisata Bukuran dan bakal digelar setiap ivent ivent di desa Bukuran.

“Setiap ada ivent harapan kami Rodad bisa berkombinasi dengan kegiatan kegiatan yang lain dan bisa selalu akan kita tampilkan setiap ivent,” bebernya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published.