Marcel Alami Keterlambatan Pertumbuhan Butuh Uluran Tangan, Orang Tua di Sragen Tak Mampu Biayai Pengobatan

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Kisah sedih dan menyayat hati datang dari seorang anak bernama Marcel Al Hafiz (9), warga Dukuh Karang Asem RT 07 RW 02, Desa Gentan Banaran, Kecamatan Plupuh, Sragen.

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Kisah sedih dan menyayat hati datang dari seorang anak bernama Marcel Al Hafiz (9), warga Dukuh Karang Asem RT 07 RW 02, Desa Gentan Banaran, Kecamatan Plupuh, Sragen.

Anak pasangan Sutarno (42) dan Sri Maryati (40), ini terlahir dari keluarga tidak mampu. Bapak bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu jualan jamu keliling. Sejak kelahirannya, Hafiz terlihat normal seperti bayi pada umumnya. Namun sejak menginjak usia 1 tahun muncul keanehan pada pertumbuhan badan Hafidz.

Menginjak umur sembilan tahun Hafidz mengalami kelainan dan sulit berjalan dan sulit berbicara. Selain itu, dikarenakan terkendala biaya dan orang tua berpenghasilan pas-pasan, orang tua hanya bisa membawanya ke pengobatan alternatif.

Ditemui wartawan, Sri Maryati mengatakan bahwa putra tercinta sakit sejak balita. Kecurigaan muncul saat pertumbuhan anaknya tidak seperti anak pada umumnya. “Sejak lahir nggak bisa menghisap tetek mamaknya dan kecurigaan muncul saat anak saya sudah pintar gini-gini tapi belum bisa apa-apa,” kata Maryati, Rabu 7 September 2022.

Sejak mengalami kelainan khusus pada diri putranya, sang ibu dan ayah juga sempat melarikan ke rumah sakit selama 10 hari. Lagi-lagi terbentur biaya, kedua orang tua hanya bisa membawa ke pengobatan alternatif.

“Dulu dibawa ke rumah sakit 10 hari, terus diobatkan ke alternatif yang disarankan oleh orang-orang diikuti dan berobat sampai sekarang. Ada dokter pas di Pekanbaru katanya ada keterlambatan,” bebernya.

Hingga saat ini keluarga ini tengah dirundung gelisah dan membutuhkan bantuan dari tangan tangan dermawan untuk biaya berobat. “Sebenarnya punya BPJS cuma nggak bisa kami gunakan karena beberapa tahun nggak bisa angsur dan nunggak pembayaran sekitar Rp 8 juta. Jadi ya kartunya nggak bisa digunakan,” tuturnya.

Maryati sebenarnya ingin sekali putra tercinta segera mendapat pertolongan dan pengobatan dari pihak rumah sakit. Tapi apa daya ia dan keluarga besar yang mayoritas hanya seorang petani juga terkendala keuangan.

“Semoga ada yang membantu keluarga kami untuk berobat anak saya, soalnya kartu BPJS saya nggak bisa digunakan katanya nunggak pembayaran, baru bisa digunakan kalau udah diangsur, saya berharap kartu BPJS saya bisa saya gunakan untuk berobat anak saya,” harapnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published.