Yumi… Menikmati Sensasi Makan Kerang Air Tawar Sungai Sangiran Sragen. Ingin Tahu Proses Masaknya?

TEPIANINDONESIA.COM-SRAGEN-Yumi… Itulah kesan setelah menikmati masakan kerang air tawar Sungai Sangiran Sragen. Fenomena panen kerang bukur air tawar ini berlangsung di Kampung Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Hal ini menyita perhatian masyarakat luas, bahkan menjadi perbincangan nasional.

Bukur adalah kerang kecil yang hidup di saluran Kali Cemoro, anak Sungai Bengawan Solo. Bukur dipanen setiap satu tahun sekali pada saat musim kemarau. Banyak masyarakat di Sangiran setiap tahunya berburu bukur, bahkan dari hasil berburu bukur tersebut, masyarakat mendapatkan pundi pundi penghasilan yang cukup banyak. Bahkan dalam satu hari masyarakat mampu mengantongi uang 150 sampai 200 ribu rupiah dari hasil penjualan bukur.

Bahkan, bukur saat ini menjadi potensi desa baru di kabupaten Sragen. Proses pencarian bukur biasanya dilakukan sejak pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Alat yang digunakan untuk mencari bukur seperti ember, sarung tangan, eyekan dari bambu, karung dan kain jarik.

Oleh masyarakat Sangiran, kerang Bukur biasanya oleh menjadi beraneka macam, yakni dimasak rica-rica, bumbu asam mani, kentaki maupun bumbu balado. Salah satu andalan menu bukur di Sangiran , yakni dimasak bumbu asam manis. Bumbu yang diperlukan yakni jahe, merica, cabai, dau jeruk, gula jawa, bawang merah, bawang putih, garam, micin, serai, laos, tomat, minyak goreng, kunir.

Proses pertama, bukur dikumpulkan dari sungai dicuci bersih dengan air kran, lalu direbus di panci, setelah mendidih lalu di angkat dan langsung di ambil daging bukur dari dalam kerang, setalah dipisahkan antara cangkang dan daging, bukur langsung di cuci bersih dengan air bersih, setelah dicuci bersih lanjut menyiapkan bumbu bumbu rempah yang sudah disiapkan.

Setelah semua bumbu diulekan, langsung digongso diatas atas wajan yang sudah dikasih sedikit minyak goreng, bumbu sudah mengeluarkan aroma yang sedap lanjut bukur yang tadinya sudah dicuci bersih langsung di masukan dan terus dioseng sampai bumbu merasuk dan terlihat bukur empuk dan berubah warna dengan aroma sedap.

Setalah dimasak selama 15 menit bukur bisa diangkat dan bisa segera dinikmati bersama.
Biasanya bukur dimakan bersama nasi yang masih panas dengan piring beralaskan daun pisang.

Naryanti (36 ), salah satu warga Sangiran RT 10, Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen selaku pencari Bukur mengatakan, musim Bukur biasanya dilakukan saat air saluran irigasi surut atau pada saat musim kemarau. “Iya sering mencari bukur setiap hari dan melayani pembelian bikur yang matang dan siap dimakan,” kata Naryati, Senin 7 November 2022.

Naryati puluhan mencari bukur saluran Kali Cemoro. “Mencari bukur seperti ini biasanya dilakukan pada saat musim kemarau atau air sedang surut, mencari bukur sudah ada sejak nenek moyang,” bebernnya.

Selain musiman, ternyata Bukur di Sangiran rupanya juga menjadi kerjaan sampingan bagi ibu ibu rumah tangga. Dalam sehari masyarakat bisa mengantongi uang sebesar 100 ribu sampai 150 ribu rupiah tergantung hasil Bukur yang berhasil ditangkap. “Alhamdulillah pernah saat musim bukur saya bisa bisa dapat 4 cincin emas dan beberapa prabot rumah tangga,”jelasnya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Krikilan, Aries Rustioko, mengatakan bukur merupakan salah satu makanan Khas yang ada di Sangiran. “Bukur juga memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Sangiran yaitu budaya akur,” jelasnya.

Menurut Aris, melestarikan makanan tradisional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari melestarikan budaya. Menjaga eksistensi makanan tradisional serta menempatkannya sejajar atau bahkan lebih tinggi dari kuliner asing.

“Akan memberi dampak yang luas bagi masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan selain dengan mengkonsumsi makanan tradisional tersebut dapat juga menjadikannya sebagai oleh-oleh sehingga dapat lebih dikenal. karena bukur adalah produk musiman sebenarya masyarakat jg sdh mulai mencoba budi daya bukur namun belum berhasil, Hasil olahan bukur biasanya juga disajikan dalam kegiatan kebudayaan masyarakat Krikilan, sebagai wujud syukur dan gotong royong,” ujarnya. (Huriyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *